we need our gadgets during traveling?


Tiga tahun belakangan ini, saya semakin sering melihat para pelancong dunia yang membawa komputer sendiri. Maksudnya, laptop atau netbook. Dulu orang yang bawa-bawa komputer hanyalah para pelaku bisnis, sekarang backpacker pun bawa. Dulu hostel yang menyediakan warnet paling dicari orang, sekarang hostel yang memiliki free wifi paling diminati – apalagi kalau ada free wifi di tiap kamar. Di café atau restoran pun berlomba-lomba menyediakan free wifi.

Sebelum boarding di bandara luar negeri, sering para penumpang disuruh membuka tas dan memisahkan komputernya untuk di-scan di X-Ray. Sejak itulah rasa gengsi akan komputer timbul. Rasanya malu juga kalau punya laptop yang modelnya rikiplik, gede, tebel dan merk tidak terkenal. Rupanya perasaan itu juga dimiliki oleh penumpang lain karena saya suka nguping komentar mereka melihat komputer orang lain. Bahkan kalo ada model bagus yang jarang di pasaran, tak jarang ditanyai “What is your notebook?”.

Apakah perlu kita jalan-jalan bawa komputer? Tergantung individu masing-masing. Kebanyakan pelancong dari negara barat membawanya karena mereka jalan-jalannya lama, minimal 6 bulan. Pastilah mereka harus terhubung dengan teman-teman dan keluarganya, pasti juga foto-fotonya banyak banget sehingga perlu di-transfer. Sementara saya, sejak kehebohan blog dan buku serta profesi saya sebagai travel writer, saya perlu untuk selalu terkoneksi dengan dunia maya. Dulunya saya sih masih bertahan untuk beberapa hari sekali pergi ke warnet, tapi kok lama-lama jebol juga duit. Apalagi kalo ke negara yang tidak berbahasa Inggris, mesti bingung liat keyboard, tampilan browser, halaman Google dan Yahoo Messenger, yang pake bahasa setempat.

Kalau saya jalannya lama, sementara saya harus kerja sambil dikejar-kejar deadline dari majalah, saya bawa Acer Aspire Timeline 3810T karena ringan (1,6 kg) dan tipis bener (<24 mm). Yang paling saya seneng sih ketahanan baterenya yang 8 jam! You know lah, kalo jalan-jalan kan belum tentu nemu colokan listrik. Touch pad-nya sistem multi-gesture, contohnya membesarkan file (zoom-in) dengan gerakan membuka pake jari jempol dan telunjuk, dan sebaliknya untuk mengecilkan (zoom-out). Segala yang saya perlukan ada, termasuk webcam, integrated microphone, dan card reader. Spesifikasinya gila bener: Intel Core 2 Solo 1.4 GHz, 4 GB memory, 500 GB HDD, LCD 13.3″ HD LED. Untuk fitur secanggih itu, harganya worth banget (tahun 2009 = USD 759). Sayangnya, 4 bulan kemudian batrenya jebot (plug in but not charging). Untungnya masih garansi, tinggal dibawa ke service center Acer di Ratu Plaza dan langsung diganti baru. Aman deh sampe sekarang.

Kalau saya jalan-jalan sebentar (kurang dari seminggu), biasanya saya bawa netbook karena kecil dan ringan. Lumayan untuk ngurus orderan merchandise dan cari info. Andalan saya Dell Inspiron Mini 10. Dengan spesifikasi Intel Atom 1.3 GHz, 1 GB memory, 160 GB HDD, cukuplah kerja sederhana dan main. Ukuran keyboard-nya 92% dari netbook, jadi nggak kekecilan untuk jari saya yang gendut. Sayangnya touch pad dan tombol tap-nya bersatu sehingga kalo ngetik sering meleset dan ‘lari-lari’ sendiri. Kelemahan lain, gampang panas sehingga tidak bisa lama-lama dipangku.

Maka saya pun beralih ke HP Mini 110 by Studio Tord Boontje. Utamanya sih karena tampilannya keren abis. Casing-nya berwarna putih susu bergambar imprint 3D motif flora fauna yang didesain ekslusif oleh Tord Boontje, seorang desainer industrial terkenal dunia. Ia juga seorang pecinta lingkungan hidup sehingga kardus dan manual book yang semotif ini berbahan recycleable. Warna keyboard-nya pun putih, sehingga terlihat bersih. Kalau isinya sih kurang lebih sama kayak Dell tadi, tapi Intel Atom-nya 1.66 GHz, touch pad yang lebih baik, dan tidak gampang panas. Hebatnya lagi, sudah termasuk Windows 7! Pokoknya netbook inilah yang saya sebut punya efek ditanya orang nggak kenal.

Kalo soal OS, saya pake Microsoft Windows 7 yang bener-bener bikin kecanduan. Apa-apa jadi gampang banget, apalagi saya termasuk gaptek. Semua fiturnya canggih bener, tapi yang paling saya sukai ada beberapa. Pertama, fitur search-nya yang tinggal klik di start, masukin keyword, dan dalam waktu supercepat langsung ketemu – bukan hanya dari nama file saja tapi sampai ke kata di dalam file. Contohnya kalau saya ketik “komodo”, maka yang keluar adalah semua file yang ada kata ‘komodo’ termasuk tulisan dan foto. Bagi saya yang doyan nulis tapi punya short memory problem, fitur ini oke banget. Kedua, menyalakan dan mematikan komputer cepet banget. Ketiga, karena saya suka buka banyak file sekaligus, di Windows 7 tanpa buka-tutup window-nya tinggal klik di bar paling bawah maka akan tampil preview halaman sehingga cepat untuk pindah-pindah. Bahkan window tersebut bisa dibuat berdampingan sekaligus sehingga gampang untuk kerja yang membutuhkan perbandingan, seperti menerjemahkan tulisan. Keempat, gambar desktop background bisa ganti secara otomatis berdasarkan tema gambar yang dipilih. Terakhir, fitur oke bagi orang gaptek: kalo mau terhubung dengan printer/kamera/scanner/handphone, ga usah install apa-apa lagi karena langsung bisa dipake. Satu lagi, kalo tiba-tiba terjadi failure/hang maka Windows 7 bisa detect dan self-healing. Wih, canggih bene

Advertisements

One thought on “we need our gadgets during traveling?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s