Ho Chi Minh City (Part 2)


Cao Dai Temple dari luar

Para biksu berdoa di dalam candi

Chu Chi tunnel

salah satu jebakan bambu di Chu Chi

Inilah yang asik kalo kita menginap di daerah backpackers seperti saya saat ini. Saya menginap di District Pham Ngu Lao. Ya, Vietnam menggunakan istilah district untuk menunjuk suatu area jalan. Jadi, kalo jalan-jalan ke Vietnam jangan takut ke sasar karena di setiap petunjuk jalan selalu ada nomer district secara lengkap. Balik lagi ke Pham Ngu Lao, di Vietnam memang ada beberapa kawasan backpackers seperti yang saya tahu adalah De Tham. Kawasan Backpackers ini terkenal serba murah baik mulai dari penginapan yang seharga US$12-20 (itupun masih bisa ditawar) hingga restoran-restoran rumahan yang menjual makanan khas traditional Vietnam.

Pagi ini sebelum berangkat mengunjungi tempat-tempat di Ho Chi Minh, saya mencicipi salah satu masakan khas Vietnam bernama Pho yang direkomendasikan oleh pemilik hotel dimana saya mengginap (untuk bagaimana rasa dan bentuk makanan ini, saya akan bahas di entry yang berbeda). Tatanan kafé-kafé pinggir jalan di Pham Ngu Lao mirip seperti di Belanda. Kafé-kafé tersebut menyediakan beberapa meja kecil dan kursi kecil di luar kafé yang menghadap ke jalan sedangkan semua proses masak-memasak berada di dalam kafé. Tidak cuma makanan, di Pham Ngu Lao juga terdapat beberapa coffee house dengan kopi asli Vietnam yang terkenal di dunia. Saya melihat tidak hanya backpackers mancanegara saja yang sedang menikmati sarapan mereka di Pham Ngu Lao tetapi ada juga beberapa pegawai kantoran yang sedang duduk-duduk menikmati kopi sebelum berangkat ke kantor.

Cao Dai temple, candi semua agama!

Setelah selesai sarapan, saya lanjut menggunakan bus menuju Cao Dai temple yang kira-kira membutuhkan waktu selama dua jam perjalanan. Sesampainya disana kita akan disuguhkan dengan bangunan yang memanjang kebelakang dengan dua pilar besar di depannya. Yang unik dari candi ini adalah agama Budha, Katolik, Islam, dan Taoism terasimilasi dengan rukun di sini. Hebatnya lagi simbol Yesus dan Budha berdampingan di tempat ini! Jadi ngiri sama tempat ini. Arsitektur gedung ini pun mencampurkan semua agama-agama tersebut. Ada stupa-stupa kecil di sekitaran candi dan pilar-pilarnya banyak dipengaruhi oleh agama Islam. Jadi kalo mau masuk berasa ada di pintu luar masjid. Pemuka agama disini pun mewakili agama-agama tersebut dengan kostum mereka masing-masing. Kuning untuk Budha, biru untuk Taoism, dan merah untu Katolik. Mereka bersama-sama berdoa di satu tempat, keren kan?

Bagi para wisatawan yang ingin menyaksikan ibadah mereka dapat melihat dari lantai dua dalam candi. Di dalam candi ini terdapat sembilan anak tangga yang melambangkan kesempurnaan menuju nirwana. Biasanya, para ‘biarawan’ ini berdoa pada pukul 6 pagi, 12 siang, 6 sore, dan 12 malam. Siang hari merupakan waktu yang pas buat menonton proses ibadah di Cao Dai temple karena biasanya para turis akan datang pada jam-jam tersebut.

Chu Chi tunnel, bringing back to the war

Siapa sih yang nggak kenal sama tempat ini. Chu Chi adalah tunnel atau lorong-lorong bawah tanah yang dulu digunakan oleh para Vietkong untuk berlindung dari tentara Amerika yang dulu menjajah Vietnam. Makanya ada sebutan perang Vietnam dan tunnel inilah yang menjadi saksi bisunya. Kawasan Chu Chi tunnel sampai saat ini masih dijaga keasliannya sehingga kita bisa melihat secara langsung hand-made bomb, jebakan bambu yang ditanam di tanah, hingga lorong-lorong bawah tanahnya. Ketika kita masuk, kita akan disajikan dengan video dokumenter perang Vietnam, fungsi masing-masing senjata, dan jebakan-jebakannya. Chu Chi tunnel berada di tengah hutan, jadi kalo mau nonton lebih baik sewa guide. Yang menjadi perhatian saya ketika saya berada di Chu Chi tunnel adalah jebakan dan lorong-lorong bawah tanah tersebut. Dibawah jebakan tersebut sudah ditanam bambu runcing yang banyak banget dan uniknya adalah jebakan ini bisa bekerja kalo diinjek oleh tentara Amerika saja yang badanya gede. Sedangkan lorong-lorong persembunyianya pun dibuat seukuran tubuh orang Vietnam yang berpostur kecil. Yang unik dari lorong ini adalah kamuflase yang sempurna. Kalo dilihat sekilas seperti tumpukan ranting kering dan tanah biasa, ternyata kalo dibuka didalamnya adalah lorong-lorong persembunyian yang saling terhubung satu sama lain. Untuk menuju ke Chu Chi tunel bisa menggunakan bus atau kereta dari Ho Chi Minh selama 2 jam perjalanan.

Sebenernya hari ini mau jalan-jalan ke Mekong River tapi karena suatu hal, akhirnya nggak jadi!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s