Galau total di Maastricht


Malam di Sungai Maas
*sorry jelek, diambil dari kamera blackberry :)*

Sebelum saya berangkat ke Benua Eropa, banyak teman-teman saya bilang ‘elo rasain deh, romantisnya Eiffel, pokoknya elo bakal galau disana‘. Karena hal itu saya semakin penasaran dengan romatisnya Eiffel yang katanya bikin galau itu. Selama ini saya sudah ke beberapa tempat yang menurut saya sangat romatis. Contoh aja nih, saya pernah galau di Halong Bay Vietnam dan di River Front Kamboja. Gimana nggak galau, sunset di Halong Bay itu bener-bener sempurna. Perpaduan antara warna merah dan kuning ke orange-orangean yang terpantul dari bebatuan membuat suasana jadi melow total. Sedangkan di River Front lebih kacau lagi. River Front sebenernya sungai kecil yang nggak begitu bagus, airnya pun keruh. Tapi, River Front ini terletak di Sisowath Quay yang terkenal hip dengan kafe dan club malamnya. Di sore hari, kita bisa duduk-duduk di bangku yang disediakan di pinggir sungai sambil menikmati sunset. Suasananya hampir sama kayak di Venice yang terkenal dengan kanal-kanalnya kalo malam. Kalo udah gitu, pengen rasanya bawa pasangan kesana sambil bilang ‘will you marry me till the death do us apart’ uwuwuwuwuwu banget lah romatisnya!

Nah, pengalaman yang sama saya dapat ketika saya tiba di Maastricht Belanda. Sebelumnya, saya nggak tau banyak tentang Masstricht kecuali Maastricht University yang sudah terkenal di seantero dunia. Sampai suatu saat, seorang teman yang kebetulan sedang melanjutkan studi S2 nya di Universitas Maastricht menawarkan untuk menginap di apartemennya. Woaaaaah! tanpa panjang lebar saya terima aja tawarannya itung-itung hemat ongkos hostel, hehehe. Setibanya saya di Schipol International Airport, saya dijemput oleh teman saya ini. Dengan menggunakan kereta cepat dari Amsterdam, kita menuju ke apartmennya di Maastricht. Ternyata Maastricht nggak seperti yang saya bayangkan sebelumnya yang merupakan kota besar. Maastricht cuma kota seuprit, malah temen saya menyebutnya desa. Uniknya, Universitas Maastricht bisa gede banget namanya dan terkenal dimana-mana. Memang Maastricht itu cantik bangeeeeeeet! Kotanya tenang, hijau, dan rapi. Bahkan kendaraan jarang banget. Yang saya sering lihat adalah orang-orang bersepeda dan berjalan kaki. Pokoknya asik banget!

Gedung-gedung di Maastricht rata-rata bergaya Prancis dan Belgia. Orang-orangnya pun juga datang dari beragam negara dan komunitas Indonesia cukup besar di sana, loh. Kata temen saya, Maastricht selain terkenal sebagi world class dinning nya, Maastricht juga terkenal sebagai kota pensiun dan kota pelajar. Pantes aja kebanyakan disana yang saya temui aki-aki. Tapi dari situlah Maastricht menjadi kota yang ‘malas’ tapi nyaman. Maastricht dibelah oleh sungai Meuse atau dalam bahasa Belanda disebut Maas. Pemandangannya kalo malem bener-bener romantis banget! Apalagi kalo kita berdiri di jembatannya sambil lihat yacht yang didalamnya ada iringan lagu seriosa, duh melow abis! Romantisnya kota ini nggak cuma disitu, saya sesekali menghabiskan waktu siang di sebuah kafe. Lagi duduk-duduk, eh ada dua orang kakek dan nenek berjalan pelan sambil bergandengan tangan. Duh, detik itu juga dada rasanya sesak dan sekali lagi saya meneteskan air mata sambil bilang ‘this place is too romantic for a solo traveler like me’ :’)

*Fyi, Eiffel malah nggak ada apa-apanya, buat saya romantisnya Eiffel sudah terlalu mainstream karena terlalu ramai tourist.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s