Drama Hostel


Party'ish hostel di Budapest

Party’ish hostel di Budapest

Warning: Di dalam postingan ini terdapat unsur materi dewasa (17+)

Sejauh ini sudah puluhan hostel di beberapa negara yang sudah saya tempati. Dari yang tempatnya berada di dekat pusat kota sampai yang harus naik-turun bukit, bahkan sampai yang sebelahan sama tempat prostitusi! Sebenarnya, tinggal di hostel selama traveling bukan prioritas utama saya, toh kalo ada hotel yang harganya selisih 1 atau 2 dollar, pasti saya memilih hotel demi privasi. Sayangnya, jarang banget ada hotel yang harganya selisih sedikit dengan harga hostel (cuma beda ‘s’ sama ‘t’ tapi harganya bisa beda 10 kali lipat). Apalagi kalo traveling ke negara yang mahal, harga per malam di hostel cuma US$7 Sedangkan di hotel bisa puluhan dollar itu pun kalo traveling ketika low-season. Kalo traveling cuma dalam hitungan hari sih, nggak masalah, lah kalo seperti saya yang traveling dalam hitungan minggu bahkan bulan? Duh, yang ada bisa bangkrut.

 Di dalam hostel biasanya terbagi menjadi dua tipe, private room yang muat dipakai empat orang dan dorm yang sekamar buat rame-rame. Di dalam sebuah dorm biasanya terdapat 6 sampai 14 kasur model susun atau yang disebut dengan bunkbed. Nah, dorm ini lah yang biasanya saya pilih karena harganya yang murah. Di beberapa hostel, dorm masih dibagi menjadi dua tipe lagi, shared room yang tidurnya campur cowo-cewe dan male / female room yang tidurnya terpisah. Tipe shared room ini adalah tipe yang paling murah. Bahkan, ada hostel yang cuma menyediakan shared room saja. Jadi bayangkan, setiap malam saya harus mendengar suara orang ngorok, suara orang yang tiba-tiba ngamuk gara-gara mabuk, sampai suara “kresek…kresek…” orang yang sedang packing di pagi buta. Arrgh!

Tipe orang yang tinggal di hostel juga bermacam-macam. Ada backpacker garis keras yang sudah di jalan selama puluhan tahun, ada ABG alay (iya, yang alay nggak cuma di negara kita) yang brisiknya minta ampun, sampai bule yang nggak pernah mandi. Ketika saya tinggal di sebuah hostel di Ann Siang Road Singapore ada seorang cewe dari korea yang traveling sendirian. Setiap malam dia nangis tanpa alasan yang jelas. Mending kalo nangisnya pelan, ini yang sampai terhisak-hisak. Kita yang waktu itu sekamar cuma berempat sampai bingung mau diapain. Berbeda lagi waktu saya di sebuah hostel di Kuala Lumpur. Ada seorang kakek asal Irlandia yang traveling sendirian. Setiap lampu dorm di matiin dia ngomel-ngomel sepanjang malam. Padahal, saya dan beberapa penghuni dorm bukan tipe orang yang bisa tidur dalam kondisi lampu menyala. Akhirnya, kita rela-relain beli penutup mata demi malamnya bisa tidur dengan nyenyak. Di Budapest, saya iseng menginap di party hostel  karena harganya yang paling murah dan lokasinya yang dekat dengan jalur metro. Eh ternyata, setiap malam si pemilik hostel mengadakan beer party dengan musik yang super kencang! Jadilah setiap malam dorm penuh dengan bule-bule teler. Belum selesai disitu, setiap pagi kita bukannya diberi teh atau kopi malah diberi beer! Alhasil, seharian perut saya kembung mampus dan setiap kali jalan pasti bersendawa “haek…haek…” 😦

Ketika saya di Lombok, saya menginap di sebuah homestay yang dikelola oleh seorang bule asal Jerman. Di dalam homestay itu ada satu kamar yang digunakan untuk dorm. Satu dorm terdapat 12 kasur yang campur cowo-cewe. Serunya lagi, hanya ada dua kamar mandi outdoor yang digunakan untuk 12 penghuni, yeay! Kamar mandinya super sempit dan hanya dibatasi bambu. Alhasil, setiap pagi kita cepet-cepetan mandi kalo nggak mau sebelahan sama orang lain. Sialnya, ketika saya pipis saya bersebelahan dengan seorang cowo bule yang baru selesai mandi. Eh, Dengan pedenya si bule keluar kamar mandi tanpa pakaian sama sekali sambil handukan! Sukseslah saya melihat ‘barang’ si bule gundal-gandul dan si bule senyum-senyum aja dong! *maksud elo?!*

Yang paling unik adalah ketika saya menginap di sebuah hostel di Siem Reap Kamboja. Hostelnya terbilang cukup tua dan hanya memiliki satu jenis dorm yaitu shared room. Di dalam dorm terdapat 10 bunkbed yang saling berhadap-hadapan satu sama lain. Di malam pertama saya menginap tiba-tiba saya mendengar suara kasur saling berdenyit. Saking penasarannya, saya cari asal suara denyitan yang ternyata berasal dari kasur bagian atas di depan saya. Tidak lama saya melihat pantat putih naik turun diikuti suara “ah..uh…ah..uh”! Ternyata, si bule cowo depan saya lagi “main” sama bule cewe di bawahnya, buset! Malam kedua mereka semakin liar. Sekarang tempat “main” mereka pindah ke kamar mandi dorm yang letaknya memang berada di dalam dorm. Di malam ketiga mereka “main” ketika semua penghuni hostel sedang berkumpul di ruang tengah. Dengan pedenya mereka menutup pintu dorm dan mengkuncinya! Tidak lama terdengar suara si cowo bilang “Sorry, it comes too fast“, eh di bales sama si cewe “Oh that’s OK!“. Muahahahahaha sukurin! 😀   

Advertisements

32 thoughts on “Drama Hostel

  1. Well, selama traveling aku belum pernah nyobain hostel, soalnya baru seputaran Indonesia sih ya. Hotelnya masih kejangkau hehe
    Ngebaca postingan ini aku ngakak parah apalagi yang pas baca “Sukseslah saya melihat ‘barang’ si bule gundal-gandul dan si bule senyum-senyum aja dong! *maksud elo?!*” sambil bayangin senyum si bule kayak gimana. Genit apa enggak, gitu? 😆 😆 😆

  2. huahaha pengalaman yg terakhir seru tuh kayaknya, makanya saya gak pernah mau di shared dorm, mending khusus female aja deh. pengalaman saya sih paling2 kek temen sekamar yg bau bgt, ngomong tereak2, nutup pintu jebrat-jebret, ada yg ngelindur cuma gitu doang sihh hahaha..

  3. huaaa… lucu ceritanya…
    kemaren sempat nyobain nginep di dorm. dormnya udah enak, pewe, eh temen sekamarnya kentut tiap berapa menit sekali. udah kenceng, baunya awet, ampe ada temen sekamar lain yang muntah 2 kali… kocakkk… tapi seru sih di dorm room gitu.

  4. Ada-ada aja, kalo jalannya berdua mendingan pilih kamar yang privat yah haha. Aku pernah waktu di hostel di Seoul sekamar sama cewek-cewek cina yang juga lagi kerja di hostel itu, kamarnya bau banget tiap malem aku harus gosokin minyak kayu putih ke idung sampe kepanasan hahahaha..

  5. Kalau yang Lombok itu homestay apa? ada refrensi hotel lain juga di Lombok? Mataram, Senggigi dan Gili Trawangan ? Terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s