Ditipu di perbatasan


ScamsEntah kenapa setiap saya menyebrang dari satu negara ke negara lainnya yang ada perut mules, kepala pening, dan keringat dingin. Padahal, semua dokumen perjalan sudah lengkap, bahkan saya selalu double check sebelum melintasi perbatasan suatu negara. Setiap melintasi perbatasan suatu negara, saya jadi teringat dengan sebuah film buatan Hollywood tentang seorang turis Amerika yang disekap berhari-hari di Afganistan setelah melintasi pebatasan. Nggak cuma disekap, bahkan si turis dibunuh dan mayatnya dibuang di gurun pasir setelah negaranya nggak mau bernegosiasi, duh. Gara-gara film ini saya jadi sedikit parno setiap melintasi perbatasan. Apalagi melihat tentara-tentara yang berjaga di perbatasan sambil membawa senjata lengkap. Belum lagi kita harus bertemu dengan petugas imigrasinya yang rata-rata bermuka super jutek.

Tapi untungnya semua itu cuma ada di film. Ketakutan saya yang sebenarnya adalah tipuan di perbatasan atau yang dikenal dengan sebutan border scam. Sialnya, praktek terbesar border scam ada di negara-negara di Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam, Laos, dan Myanmar. Bahkan, buku traveling secanggih Lonely Planet saja sampai membuat kolom khusus yang membahas trik-trik tipuan di negara-negara tersebut. Tipuan-tipuan ini saya buktikan belum lama ini ketika melintasi perbatasan Thailand dan Kamboja. Beberapa hari sebelum melewati perbatasan saya sudah membaca, browsing, dan tanya-tanya ke sesama teman bekpeker tentang gaya tipuan di perbatasan Thailand dan Kamboja. Ternyata kedua tempat ini memang paling terkenal dengan tipuan para calo dan copet! Dih, terkenal kok jeleknya.

Pagi-pagi benar saya meninggalkan Bangkok menuju Aranyaprathet (dibaca: Aran Yaprathet) yang merupakan kota perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Dari stasiun Hualamphong Bangkok, saya memilih menggunakan kereta paling pagi yaitu pukul 5 lebih 55 menit. Saya memilih kereta karena selain saya punya waktu yang cukup panjang, harganya yang juga terjangkau. Kalau mau yang lebih murah ada sih bis dari Bangkok ke Aranyaprathet, tapi siap-siap aja dioper sana-sini plus pantat ngilu. Kereta dari Bangkok ke Aranyaprathet ini mirip seperti kereta jurusan Bogor – Jakarta. Keretanya gampang dikenali karena warnanya yang kuning ngejreng mirip kayak warna sebuah partai di negara kita. Jalur Bangkok – Aranyaprathet adalah jalur favorite para traveler karena melewati hamparan sawah yang cantik. Apalagi, kalau melintas pas sore hari.

Poi Pet Kamboja

Poi Pet Kamboja

Pukul setengah 12 saya sampai di stasiun Aranyaprathet. Ada dua cara yang paling lazim yang diambil oleh para turis untuk sampai ke perbatasan: naik tuk-tuk dengan ongkos 60 Bhat atau ojeg dengan ongkos 20 Bhat. Karena di kereta saya ketemu dengan seorang bekpeker dari Jerman bernama Simon, saya memilih menggunakan tuk-tuk. Mendekati perbatasan, si supir menawarkan untuk berhenti di perwakilan kantor imigrasi Kamboja. Disana katanya bisa mengurus Visa On Arrival dengan harga yang jauh lebih murah daripada kantor imigrasi di Kamboja nanti. Jelas-jalas saja kami menolak, secara dari bentuk bangunan saja sudah mencurigakan untuk sebuah kantor imigrasi. Sudah dibilang kami mau langsung ke Poipet yang merupakan perbatasan Kamboja, tapi si supir tuk-tuk masih kekeh mau belok. Sampai si Simon harus bilang “I know your trick, go straight to the border otherwise we won’t pay you!” Baru deh si supir mau jalan terus. Sampai di Poipet benar saja kami langsung dikepung oleh para calo yang memaksa kami pergi ke “kantor imigrasi” Kamboja. Bahkan beberapa dari mereka super pantang menyerah sampai menarik-narik tas saya. Karena kesal, saya sampai teriak “I AM INDONESIAN, NO NEED VISA!” Langsung mereka ngacir sambil bete 😀

Setelah mengantar si Simon mengurus VOA di Poipet, kami berjalan ke tempat yang hampir mirip terminal tapi di tengah lapangan berpasir. Rupanya, tempat itu adalah terminal bayangan buat segala moda tranportasi menuju Siem Riep dan Phnom Penh. Para calo ini ternyata belum menyerah juga, mereka langsung menghampiri kami sambil menawarkan shuttle yang berupa bis ke Siem Riep. Walaupun diklaim sebagai official shuttle, ternyata ini merupakan governmental scam atau tipuan yang dibuat oleh pemerintanya sendiri, sinting! Karena lelah ditipu sana-sini, akhirnya kami memutuskan menyewa mobil minivan dengan harga USD25. Untungnya, kami ketemu tiga orang cewek asal Kanada yang mau diajak patungan.

Saya pikir tipuan sialan mereka sudah selesai sekeluarnya kita dari Poipet, ternyata saya salah! Sepenjang perjalanan Poipet menuju Siem Riep, kita melewati jalanan kosong. Sepanjang jalan yang ada cuma kebun, kebun, dan kebun, hampir tidak ada rumah penduduk. Duh saya jadi kepikiran gimana kalau kita diturunin paksa, gimana kalau ternyata si supir ternyata rampok terus kita dicopet dan dibuang ditengah jalan. Aaaargh! Setelah hampir dua jam, mobil berhenti di sebuah rumah makan. Si supir bilang “kita mau makan disini, perjalanan ke Siem Riep masih sejam lagi” Karena lapar, akhirnya kita nurut apa kata si supir. Baru saja mau mulai makan, tiba-tiba kita dikepung oleh para tour agent yang menawarkan hotel dan hostel plus transportasi kesana. Karena merasa harga yang ditawarkan hampir tiga kali lipat dari harga normal, akhirnya kita menolak secara halus. Eh orang-orang ini masih terus memaksa. Bahkan, ada yang memaksa kita untuk pisah karena kita bukan teman rombongan tapi teman nemu dijalan. Lah kok ngatur!

Karena kesal, akhirnya si Simon terpaksa harus berbohong “we five have booked a hostel” Eh dia tambah nyolot “You’re liar! you haven’t booked for anything. Show me your booking!” Si calo terus teriak-teriak sambil meminta bukti booking karena tahu kita belum melakukan booking apapun. Sampai si Simon harus bilang “it’s on my email and I don’t bring laptop!”, tapi si calo terus memaksa sambil mengancam dan mengebrak meja “You’re liar! no booking, no car!” Dan benar si supir minivan tadi udah kabur entah kemana. Karena capek terus berdebat, akhirnya kita putuskan untuk kabur dan sewa taksi ke Siem Riep dengan ongkos USD35 😦                 

Advertisements

19 thoughts on “Ditipu di perbatasan

  1. Hehe…kalau saya dulu malah naik shuttle bus yg katanya official dari pemerintah itu. Soalnya dulu blm pernah denger trik itu. Kena deh disuruh tukar USD ke Real, pdhl dimana2 mereka charge-nya pake USD. Real dihargai lbh rendah 😦 Terus semua penumpang bis diturunin di luar kota dan terpaksa naik tuk2 yg udah siaga di sana.

    Hmm…masih kayak gitu ya sekarang? 😦

  2. Uhmm…..jadi emang bener ya, banyak scam di daerah perbatasan antar negara SEA.
    Agak ngeri sih apalagi kalo pas sendirian. Makanya aku kadang prefer keluar uang lebih tapi udah beres diaturin sama agent terpercaya 😦

    • Hahaha penginnya sih gitu mbak, pakai tour ajen aman. Sayangnya, duit buat bayar tur ajen bisa buat makan 5 kali. tapi, Kalau ditipu kayak gini juga ujung-ujungnya ruginya double sih ._. #Lah #rauwisuwis

      Salam kenal mbak! 😀

  3. @Venus Januari 2014 ini aku juga ke Kamboja cuma nanti via udara. dan nanti juga ngelewatin legend border kamboja-thailand selepas dr siem reap untuk ke bangkok. km ke kamboja tanggal brp?
    aku tgl 24-26 januari. hopefully could be meet up and sharing our experience. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s