Ke Surga Butuh Usaha


_MG_3080Saya baru saja kembali dari Pulau Kanawa di Nusa Tenggara Timur. Pulau Kanawa ini terletak di sisi utara Pulau Komodo, dan hanya dapat dijangkau dengan kapal nelayan dengan jarak tempuh satu hingga dua jam perjalanan dari Labuan Bajo. Sebenarnya saya sudah lama mendengar tentang eksotisme Pulau Kanawa ini, tapi karena aksesnya yang sulit, dan harga kesononya yang mahal, membuat rencana saya batal berkali-kali. Hingga suatu saat, saya mendapat tiket promo Denpasar-Labuan Bajo. Langsung, saya kembali mengumpulkan niat untuk mengunjungi Pulau Kanawa.

Dari hasil browsing sana-sini, Kanawa merupakan pulau yang kalah maju dari pulau-pulau di sekitarnya, seperti Pulau Komodo dan Labuan Bajo. Satu-satunya penginapan yang beroprasi di Pulau Kanawa adalah Kanawa Beach Bungalows yang memiliki tiga jenis penginapan: bungalo, bale, dan tenda. Untuk yang berduit dan kenyamanan adalah nomer satu, bisa memilih tipe bungalo yang harganya 550.000 Rupiah per malam. Sedangkan buat yang mau hemat, tapi masih mementingkan kenyamanan bisa memilih penginapan tipe bale yang harganya 200.000 Rupiah per malam dengan kamar mandi di luar. Kalau mau yang paling hemat bisa menyewa tenda dengan harga 100.000 Rupiah per malam. Karena waktu itu saya masih pengin nyaman tapi hemat, saya memilih penginapan tipe bale. Booking kamar pun hanya bisa dilakukan melalui telpon tanpa DP booking sama sekali karena tidak ada satupun ATM di Kanawa.

Hari keberangkatan pun tiba. Sialnya, pesawat dari Denpasar delay selama satu jam, padahal saya harus mengejar kapal satu-satunya ke Kanawa yang berangkat jam 11 pagi. Selama di bandara saya deg-degan! Gimana kalau saya sampai ketinggalan kapal? Untungnya, setelah menunggu satu jam akhirnya pesawat benar-benar berangkat. Dan tepat pukul 10.30 saya sudah tiba di Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo. Sayangnya, ojek yang biasanya banyak mangkal di sekitar bandara susah dicari. Terpaksa saya harus rela berjalan kaki selama 15 menit hingga bertemu dengan ojek yang membawa saya ke loket kapal. Dan benar saja, setibanya saya di loket, kapal ke Kanawa baru saja berangkat! Pilihan satu-satunya adalah menunggu esok harinya, dan tinggal satu malam di Labuan Bajo. Karena ogah rugi penginapan, saya memilih langsung ke dermaga Labuan Bajo, dan mencari kapal nelayan yang akan menuju ke Kanawa. Dari hasil ngobrol bareng warga lokal, yang merangkap jadi calo, dia menawarkan kapal ke Kanawa dengan harga 2 kali lipat lebih mahal daripada harga di loket. Karena hari makin siang dan takut kehabisan kapal, akhirnya saya setuju dengan harga yang ditawarkan.

Karena saya tidak sempat foto penginapannya, ini saya pinjam dari http://www.travelfish.org

Singkat cerita, tibalah saya di Pulau Kanawa. Penginapan Kanawa Beach Bungalows tidak jauh dari tepi pantai, bahkan beberapa bungalow terletak tepat di pinggir pantai! Ihiy! Setibanya saya di penginapan, saya langsung menuju meja resepsionisdan terkejutlah saya mengetahui kalau semua penginapan penuh! Lah, kan saya sudah booking? Kok seenaknya ngasih kamar ke orang lain? Ternyata, sistem yang berlaku adalah siapa yang cepat dia yang dapat. Si mbak resepsionis yang senyumnya manis menyarankan saya untuk tinggal di tenda dahulu sampai besok pagi. Karena tidak mungkin ngusir tamu yang sudah tinggal terlebih dahulu. Sepanjang hari saya ngiri abis melihat mereka yang tinggal di bungalo dengan fasilitas hammock di teras yang langsung menghadap sunset, sial.

Fasilitas di dalam bale juga sangat terbatas. Kipas angin yang dijanjikan di web saja rusak, alhasil kalau malam bale terasa sangat panas. Ditambah lagi, letak bale dengan kamar mandi yang lumayan jauh, plus gelap kalau malam. Pilihan terbaik ketika kebelet pipis tengah malam adalah pipis di pantai, atau tahan pipis sampai pagi. Air pun juga sangat terbatas, satu penghuni hanya dijatah satu ember! Belum lagi nyamuk yang segede gaban (walaupun, saya nggak tahu gaban itu segede apa), dan listrik yang hanya menyala selama 6 jam! Nah, yang paling seru dari bale ini adalah bangunanya yang sedikit terbuka, jadi siap-siap saja ngintip atau diintip oleh penghuni lain kalau sedang tidur. Restauran dan diving center hanya ada satu yang semuanya dikelola oleh pemilik penginapan. Jadi wajar kalau semua makanan dan paket snorkling atau diving menjadi sangat mahal.

Ngiler nggak? :p

Ngiler nggak? :p

Terlepas dari susah dan mahalnya Kanawa, pulau ini adalah surga! Bayangkan, setiap bangun tidur kita langsung berhadapan dengan air tanpa arus yang bergradasi dari biru muda ke biru tua. Setiap pantainya pun juga sangat sepi, jadi bisa bobo-bobo lucu di pinggir pantai tanpa takut terganggu oleh orang lewat. Kalau mau melihat pemandangan yang spektakuler bisa mendaki ke puncak pulau. Dari sini kita bisa melihat jajaran atol yang membentang luas di sekeliling pulau! Bahkan kalau hari sedang cerah, kita bisa melihat pulau-pulau di sampingnya. Mirip seperti Halong Bay di Vietnam. Surga di bawah Pulau Kanawa juga tidak kalah spektakuler. Terumbu karangnya masih sangat terawat dengan bentuknya yang beragam. Ikannya pun juga bervariasi. Bahkan, setiap spot punya ciri khas ikannya masing-masing! Cukup dengan snorkling kita sebenarnya sudah bisa menikmati pemandangan bawah laut Kanawa. Karena kalau sedang cerah, jarak pandang dari atas laut bisa mencapai lima meter!

Dari rumor yang saya dengar, Kanawa Beach Bungalow dan dive center akan segera tutup karena bangkrut. Jadi, kalau mau ke kanawa lebih baik cek dulu apakah masih ada atau tidak.

          

Advertisements

5 thoughts on “Ke Surga Butuh Usaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s