AirAsia: Sebuah Perjalanan yang Mengubah (Ads)


12115543805_38d2165e24_oWah mas, ketemu lagi. Selamat datang di penerbangan kami’ Sapa seorang pramugari AirAsia QZ 7872 tujuan Yogyakarta – Denpasar dengan senyumnya yang sangat manis. Ini memang bukan perjalanan saya yang pertama ke Bali selama bulan Juni 2013, melainkan perjalanan saya yang ke dua dalam bulan yang sama. Perjalanan yang pertama bermodal tiket promo seharga 350 ribu untuk pulang pergi, sedangkan tiket ke dua memang saya beli untuk saya, dan pacar saya. Sayangnya, menjelang hari kebarangkatan kami ke Bali hubungan kami berakhir. Alhasil, satu tiket AirAsia hangus!

Awal 2009, ‘hah, ke Singapur cuma 99 ribu, serius lo!’ teriak saya. Saya hampir tidak berani membayangkan pergi ke luar negeri. Sebagai mahasiswa yang masih hidup dari uang saku orang tua, bisa jalan-jalan ke luar pulau saja sudah luar biasa senang. Itu pun harus rela menabung berbulan-bulan, dan memangkas uang jajan. Semua itu saya lakukan demi jalan-jalan. Ketika traveling pun masih harus berhemat karena uang yang terbatas. Saya ingat pertama kali saya pergi ke Bali bersama teman-teman saya. Kami bersama-sama naik bis ekonomi-bisnis dari terminal Kampung Rambutan ke terminal Ubung Bali. Waktu yang ditempuh hampir 22 jam! Tidak pernah terpikirkan untuk naik pesawat yang harganya 100 kali lipat harga tiket bis.

AirAsia dengan pemandangan Gunung Agung, Bali!

AirAsia dengan pemandangan Gunung Agung, Bali!

Bermodal tiket murah ke Singapura, saya dan seorang teman saya memberanikan diri untuk pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya. Passport sudah kami siapkan lima bulan sebelum keberangkatan. Cara check-in di bandara dan naik pesawat sudah kami tanyakan ke orang-orang yang pernah ke luar negeri. Jawaban mereka rata-rata sama: pipislah di pesawat! Hari keberangkatan pun tiba. Keringat dingin saya rasakan sejak di ruang tunggu boarding. Saya nervous. Ini pertama kali saya naik pesawat ke luar negeri dengan tiket seharga 200 ribu. Tidak perlu waktu lama, pesawat AirAsia kami sudah mendarat di Bandara Internasional Changi yang ternyata jauh lebih luas dari bayangan kami! Dua jam kami habiskan untuk berkeliling bandara, dan keluar masuk toilet yang ternyata lebih bagus dari kamar kost kami. Singkat cerita, selama tiga hari kunjungan kami di Sangapura, saya banyak mengenal para pejalan dengan cerita mereka masing-masing tentang kota-kota yang pernah mereka kunjungi. Dari pantai-pantai yang eksotis, candi-candi tinggi yang namanya seperti sebutan orang sedang berkumur, sampai penerbangan berjam-jam yang membuat mereka seperti orang mabuk! Ah, serunya.

Sejak saat itu saya berjanji: perjalanan ini tidak boleh usai.

‘in less than 15 minutes we’re landing in Tan Son Nhat International Airport, ladies and gentlemen welcome to Ho Chi Minh City.’ Begitulah pengumuman yang saya dengar dari ruang kemudi AirAsia AK 0520 dari Kuala Lumpur ke Ho Chi Minh City. Tepat satu setengah tahun dari perjalanan pertama saya ke Singapura, saya berniat traveling dalam waktu yang lebih lama. Bukan tiga hari, melainkan dua bulan. Saya akan pergi sendiri seperti para pejalan itu. Perjalanan saya dimulai dari Vietnam, kemudian berlanjut ke Thailand, dan berakhir di Kamboja. Di ketiga negara itulah, saya bertemu banyak pejalan di setiap kota yang saya singgahi. Seperti perjalanan sebelumnya, mereka selalu mempunyai cerita yang membuat siapapun yang mendengarnya untuk traveling. Yang membuat berbeda adalah kali ini saya bukan hanya sebagai pendengar, tapi juga pencerita tentang tempat-tempat yang telah saya kunjungi.

Selama dua bulan lamanya, saya sudah menggujungi banyak tempat-tempat yang bahkan saya tidak tahu ada di bumi ini sebelumnya. Dari merasakan birunya air laut di pulau tersembunyi di Phu Quoc, sampai menanggis di museum pembantaian di Kamboja. Dari bertemu dengan sesama pejalan yang bahkan telah lupa alamat rumahnya, sampai bersahabat dengan waria yang dahulunya adalah seorang tentara. Memang, setiap perjalanan harus memberi pelajaran untuk meggubah kita, bukan?

Perjalanan ini masih belum usai. Saya masih ingin seperti Tony Wheleer, si penemu situs terkenal untuk pejalan itu ketika menggunjungi Nepal. menikmati sunrise di Nagarkot, melihat kuil-kuil Hindu kuno di Bhaktapur, dan menaiki bis berjam-jam dari Khatmandu ke Pokhara demi menikmati sunrise dengan latar belakang Himalaya!

                          

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s