Geylang Bukan Cuma Ayam!


kemana kita?’ 

Singapura kayaknya seru. Tapi cari tempat yang bikin dosa ya!’ 

Okek!’

Sebentar kemudian saya dan seorang teman saya sudah mendarat di Bandara Internasional Changi. Memanfaatkan cuti kantor yang hanya Sabtu dan Minggu, kami memutuskan untuk weekend gateway ke Singapura tanpa persiapan, dan itinerary apapun! Kami memilih penerbangan paling awal dari Surabaya ke Singapura. Dengan pertimbangan, sesampainya di Singapura kami bisa langsung jalan-jalan, dan check-in pengginapan.

Setibanya kami di bandara, kami baru sadar kalau belum memesan kamar sama sekali. Setelah berdiskusi lumayan panjang, kami akhirnya memilih Geylang. Tujuan kami nggak akan jalan-jalan bikin capek, tapi cuma mau slow-traveling. Makan, nongkrong di kafe, keliling beberapa toko, dan begitu seterusnya.

Kalau mendengar Geylang, setiap orang yang pernah ke Singapura pasti akan berpikir sebagai red light district nya Singapura. Memang nggak salah, sih, secara Geylang merupakan industri prostitusi terbesar di Singapura. Bahkan, pemerintah Singapura saja sudah melegalkan Geylang sebagai pusat industri seks!

Tapi jangan salah, Geylang di malam hari sangat berbeda dengan Geylang ketika siang hari. Ketika malam, Geylang dipenuhi oleh para ‘ayam’ yang menjual dagangannya di rumah-rumah bordil dengan hiasan lampu neon yang berwarna nge-jreng. Para ‘ayam’ ini ternyata sudah dibagi sesuai ras mereka masing-masing. Mereka dikelompokkan di setiap gang yang disebut dengan lorong. Contohnya saja, lorong satu sampai tiga dihuni oleh wanita Chinese asal Taiwan dan Hongkong. Sementara lorong empat dan lima dihuni oleh wanita asal India, Melayu, dan Indonesia!

Ketika siang, pemandangan sebagai red light district benar-benar hilang. Geylang bertransformasi menjadi tempat tujuan wisata yang menarik. Selain menarik, lalu kenapa, sih, harus memasukan Geylang ke bucket-list wisata?

Pilihan hotel yang terjangkau

Jangan mengira semua hotel di lokasi prostitusi semuanya ‘berlendir’. Walaupun Geylang terkenal sebagai area lokalisasi terbesar, masih banyak pilihan hotel bagi wisatawan yang layak. Lokasi hotelnya pun rata-rata berdekatan dengan satu-satunya stasiun MRT di Geylang, Aljuned. Ini jelas memudahkan turis untuk bepergian ke daerah lain di Singapura. Bahkan, beberapa hotel letaknya berdampingan dengan convenience store  yang buka 24 jam.

Ketika saya di Geylang kemarin, saya menginap di Amrise Hotel yang letaknya hanya 10 menit jalan kaki dari stasiun MRT Aljunied. Harga per malamnya pun hanya 300 ribu-an untuk double bed. Yang saya suka dari Amrise Hotel ini adalah bangunannya yang bergaya campuran antara klasik Eropa dan Peranakan Tionghoa.           

Surga tempat makan

Favorit saya dari Geylang, sih, makanannya. Semua jenis makanan khas Peranakan, India, dan Malaysia dijual di sini. Mau jajanan pinggir jalan, sampai full course dining pun ada. Menurut saya, makanan di Geylang jauh lebih murah daripada tempat-tempat lain di Singapura. Mau ngopi, atau beli dessert, tinggal cari penjual di pinggir jalan. Street bar pun buka di pinggir jalan hingga larut malam. Jangan heran kalau rata-rata rumah makan di sini buka ketika malam hari, karena konsumen utama mereka, ya, pelanggan dan pekerja seks.

Street Bar di Geylang

Street Bar di Geylang

Nah, Kalau ke Geylang cobalah kwetiaw sapi di lorong 39, kepiting pedas, dan frog leg porridge yang super endeus! Sebelum makan, lebih baik tanya dahulu apakah halal atau tidak. Dan kalau cewek, jangan lupa bawa teman ketika makan. Daripada ikut ditawar om-om, kan?

Surga shopping! 

Mau cari oleh-oleh khas Singapura yang harganya tiga kali di bawah harga tempat-tempat turis? Geylang tempatnya. Lucunya, walaupun jualannya di dalam toko, barang-barang di sini masih bisa ditawar sampai separuhnya! Tergantung pandai-pandainya kita menawar. Buat pecinta gadget, ada banyak hp second model terbaru yang dijual di bawah harga pasaran di pinggir jalan. Nah, kalau malam banyak sex shop yang buka di setiap lorong. Mereka menjual berbagai macam perlengkapan seks yang *ehem* unik-unik dan kinky! 

Nightlife.

Surga malam di Geylang jadi satu dengan lorong-lorong di mana para pekerja seks bekerja ketika malam. Biasanya, bar, karaoke, dan club ditandai dengan papan lampu berwarna norak nge-jreng. Jangan bayangkan bar dan club di sini sama dengan bar-bar mahal di kawasan Orchard. Rata-rata bar di sini dikelola secara rumahan, bahkan beberapa bar menempati bangunan kuno!

Joo-Chiat.

Bangunan khas peranakan di Geylang.

Bangunan khas Peranakan di Geylang.

Joo-Chiat ini adalah kawasan yang terletak di ujung jalan Geylang. Joo-Chiat terkenal dengan komunitas Peranakannya yang masih asli. Bahkan, mereka masih menempati rumah-rumah kuno khas Peranakan. Hampir semua bangunannya photogenic, mirip seperti di film-film silat jaman dahulu. Rata-rata rumahnya terdiri atas dua lantai. Di lantai atas terdapat beberapa jendela kayu yang berukuran besar. Yang menarik, setiap rumah dicat dengan warna khas Tiongkok yang cerah dengan ukiran-ukiran yang sangat detil. Nggak heran, banyak calon pengantin yang melakukan pre-wedding di sini. Bahkan, saya pun sempat dilihatin orang karena berkali-kali memfoto jendela. Ya, siapa, sih, yang mau jendela rumahanya difoto? Habisnya cakep, sih!

Geylang Serai Market.

IMG_003

Lumpia kering yang di dalamnya berisi durian. Enaknya jahat!

Inilah open market terbesar di Geylang. Di sini semua bahan pokok dijual oleh kaum Peranakan dan imigran dari beberapa negara. Yang paling dominan di Serai Market adalah produk khas Timur Tengah, seperti kain sutra, bumbu-bumbuan, dan kerajinan tangan. Kalau mau berkunjung, datanglah siang atau malam hari. Biasanya, banyak penjual durian yang mangkal. Beberapa durian sudah diolah menjadi cemilan yang enaknya bikin dosa! Kalau lapar, coba naik ke lantai dua. Semua makanan khas Malaysia seperti nasi lemak, dan kari khas India dijual di sini.

Gimana, Geylang nggak cuma ‘ayam’ dan prostitusi kan? Masih banyak tujuan wisatanya yang menarik! 🙂            

Advertisements

3 thoughts on “Geylang Bukan Cuma Ayam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s