Surga Bernama Bako


if you’re planning to go to Kuching, I suggest you to take a day tour to Bako National Park.’ Begitulah kata seorang turis asal Belanda yang saya temui di hostel di Kuala Lumpur. Memang, dua hari mendatang, setelah beberapa hari di Kuala Lumpur, saya berencana untuk mengunjungi Kuching untuk pertama kalinya sebelum kembali ke Jakarta.

‘I did 7 hours walk in Bako, and it was worth every dollar I spent!’  Begitulah kata si bule itu yang menambah rasa penasaran saya.

Karena waktu itu saya hanya punya waktu singkat di Kuching yang merupakan ibu kota Serawak, saya memilih menggunakan jasa tur perjalanan yang melayani one day trip ke Taman Nasional Bako. Kebetulan waktu itu saya memilih Borneo Adventure yang menerima booking via online. Paket yang disediakan bermacam-macam dari yang hanya satu hari sampai yang menginap.

Pukul setengah sembilan pagi saya sudah dijemput oleh agen perjalanan di hotel menggunakan mobil van berwarna pink gonjreng. Selain saya ada dua orang turis asal Belgia dan seorang pemandu bernama Ahmad yang merangkap jadi supir. ‘It will be 35 minutes driving from here to Kampong Bako’ begitulah kata Ahmad yang dilanjutkan dengan cerita awal mula dibukanya Taman Nasional Bako.

Kampung atau Kampong Bako yang terkenal sebagai kampung nelayan sekaligus pintu masuk ke Taman Nasional

Kampung atau Kampong Bako yang terkenal sebagai kampung nelayan sekaligus pintu masuk ke Taman Nasional

Setibanya kami di Kampong Bako kami segara menyebrang ke Taman Nasional Bako yang berjarak 20 menit menggunakan perahu. Kami melintasi sungai yang membelah Serawak. Menurut Ahmad, sungai Serawak ini bermuara di Laut Cina, sehingga wajar kalau sungai ini lumayan berarus. Di waktu tertentu, pengunjung bisa melihat gerombolan lumba-lumba atau buaya yg sedang melintas. Sayangnya, waktu kami melintas hari sudah siang, jadi nggak ketemu, deh, sama lumba-lumba.

Setibanya kami di Taman Nasional Bako kami langsung dibawa ke kantor petugas taman nasional. Di sini kami dikumpulkan untuk mendengarkan pengarahan tentang jalur yang akan dilalui. Dari penjelasan yang diberikan, saya jadi tahu kalau jalur trekking di Taman Nasional Bako itu buanyak banget, dan mempunyai waktu tempuh yang berbeda-beda. Untuk jelasnya bisa lihat di website milik Serawak Forestry ini.

Karena waktu itu saya hanya satu hari, dan sudah masuk dalam paket perjalanan, maka jalurnya pun sudah ditentukan. Trek yang akan kami lalui adalah Tanjung Sapi, Telok Paku, dan Telok Pandan Kecil. Sebelum berangkat, kami diberikan makanan ringan, teh, dan peta buat jaga-jaga kalau kesasar. Ternyata, pemandu kami sudah bukan Ahmad lagi, melainkan petugas dari taman nasional yang sangat jago berbahasa Inggris.

Dari kantor petugas taman nasional ke Tanjung Sapi hanya membutuhkan waktu 30 menit jalan kaki. Semua masih nampak sehat, termasuk saya. Bahkan, si bule cowo Belgia masih kuat membawakan carrier milik pacarnya. *ecie* Trek yang kami lalui belum begitu berat, hanya trek jembatan kayu dan tanah datar. Di ujung trek terdapat hutan bakau yang luas melintang, nah inilah yang disebut dengan Tanjung Sapi. Menurut si pemandu, kalau lagi beruntung pengunjung bisa melihat buaya dan monyet Bekantan. Sayang kami hanya melihat seekor babi hutan jantan yang cuek melintas di depan kami.  

Kami lanjut berjalan ke Telok Paku yang jaraknya 45 menit dari Tanjung Sapi. Di 15 menit pertama trek masih kelihatan normal, menjelang menit ke 30 jalan kaki, trek mulai memasuki hutan bertebing! *glek* Tanah yang tadinya datar, berubah menjadi bebatuan. Semakin jauh berjalan bebatuannya semakin besar dan landai! Sialnya, malam sebelumnya Serawak diguyur hujan deras. Alhasil bebatuan nggak hanya tajam, tapi juga licin! Saya yang hanya memakai sepatu sneakers sukses tergelincir beberapa kali. Setiap kali saya kepleset bule-bule yang kelewat sehat itu cuek aja dong! Sial! Setelah bersusah payah, sampailah kami di sebuah pantai kecil di tengah hutan, inilah yang disebut Telok Paku. Ketika sampai, si pemandu tiba-tiba berbisik kencang ‘slow your move and quiet’, memberi tanda kami untuk tidak bersuara. Saya kira ada macan atau hewan buas, ternyata segerombolan monyet Bekantan berglayutan dari satu batang ke batang lainnya tepat diatas kami! Woah! Hebatnya, suara Bekantan ini nyaris tak terdengar, tapi pemandu kami bisa mendengar gerakan mereka jauh sebelum mereka datang! Hebat ya? 😀

Trek menuju Telok Pandan Kecil

Trek menuju Telok Pandan Kecil

Sambil berjalan ke Telok Pandan Kecil, si pemandu menjelaskan perbedaan Bekantan jantan dan betina. Menurut dia, ada hampir 275 jenis spesies monyet Bekantan di Taman Nasional Bako, dan semuanya tergolong langka. Saya kira semua Bekantan berhidung besar, ternyata saya salah. Hanya Bekantan jantan lah yang mempunyai hidung besar dan memiliki perut buncit. Setelah berjalan satu setengah jam dari Telok Paku, tibalah kami ke sebuah tebing yang lumayan curam, di bawahnya ada sebuah pantai berpasir halus dan airnya bergradasi dari biru muda ke biru tua yang diapit oleh dua buah tebing. Inilah si cantik Telok Pandan Kecil!

Akhirnya! Telok Pandan Kecil! 😀

Rombongan yang tadinya bermuka masam karena kelelahan, langsung berlari ke tepi pantai. Saya memilih menikmati pemandangan dari atas tebing dahulu. Dari sini Teluk Asam dapat terlihat dengan jelas, lengkap dengan karang yang menjunjung tinggi menyerupai kepala naga. Konon, karang-karang ini sudah terbentuk ribuan tahun. Sedangkan dari ujung pantai terlihat Laut Cina dengan ombaknya yang super tinggi. Walaupun berbatasan dengan Laut Cina, pantai di Telok Pandan Kecil benar-benar tak berarus, sehingga sangat aman untuk berenang. Ditambah lagi karangnya nggak begitu banyak, jadi cukup nyaman untuk berenang gaya bebek. Sayangnya, terumbu karang di sini nggak begitu bervariasi, dan fasilitas toilet masih sangat minim. Jadi, siap-siap berenang tanpa ganti!

Batu karang yang berbentuk seperti kepala naga.

Batu karang yang berbentuk seperti kepala naga.

Nah, kalau mau berkunjung ke Taman Nasional Bako luangkan waktu untuk menginap satu atau dua malam, kemudian ikut Bako Night Tour seharga 80 Ringgit. Katanya, Taman Nasional Bako lebih eksotis dinikmati ketika malam, karena lebih banyak fauna yang aktif. Ih, Jadi penasaran! 😀

                                      

Advertisements

One thought on “Surga Bernama Bako

  1. Pingback: Kota Kinabalu Dalam Sehari | Catatan Ransel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s