Sebulan di Ubud: Ini yang Saya Bayar!


IMG_335

Saya sebenarnya sudah jatuh cinta dengan Ubud sejak tiga tahun terakhir. Walapun akhir-akhir ini Ubud jauh lebih ramai dari Ubud yang pernah saya kunjungi tiga tahun lalu, tetap saja Ubud selalu istimewa buat saya. Sejak munculnya film Eat, Pray, Love yang dibintangi oleh Julia Roberts, Ubud memang sedikit ‘lebay’Banyak turis yang akhirnya terobsesi oleh kehidupan Liz Gilbert – tokoh utama di film Eat, Pray, Love – yang dikisahkan sedang patah hati kemudian mencari cinta di Ubud dengan mengunjungi dukun tradisional Bali. Doi diramal akan papasan dengan seorang pria yang menabrak dia ketika naik sepeda keliling sawah di Ubud. Singkat cerita si Liz ini jatuh cinta dengan si cowok yang manabrak dia. *ehe drama banget, ya!* Dampaknya? Semua dukun dan terapis akhirnya menamakan dirinya sebagai healer, bahkan beberapa sudah mendirikan tempat praktek! Harganya jangan ditanya, untuk beberapa menit konsultasi bisa ratusan ribu rupiah. Hotel dan resort berbintang pun berlomba-lomba menyediakan tempat untuk meditasi dan Yoga. Semakin letak hotelnya berdekatan dengan sawah, semakin mahal harganya. Belum lagi kafe-kafe bertema hippies yang semakin norak interiornya semakin ramai, mulai bertebaran di mana-mana.

Namun yang membuat saya ingin kembali ke Ubud bukan itu. Di Ubud hidup rasanya serba ‘cukup’. Mau pergi ke bar pakai sendal pun ayo-ayo saja. Mau jalan-jalan keliling Ubud nggak perlu naik taksi, cukup menyewa sepeda atau kendaraan bermotor. Setiap hari di Ubud rasanya saya selalu punya waktu untuk menulis, nongkrong males di kafe, atau sekedar ngobrol dengan orang asing yang saya temui di kafe. Bahkan suatu kali saya pernah bertemu dengan seorang turis asing yang berkata: “life is too easy in Ubud!” Ember, mister!   

Nah, untuk menikmati Ubud sepenuhnya menurut saya nggak cukup satu atau dua hari saja. Butuh berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk berbaur dengan damainya Ubud. Nah, buat yang berencana tinggal di Ubud dalam waktu yang lama, saya akan berikan perkiraan biaya hidup di Ubud selama satu bulan.

Penginapan

IMG_334

Traveling ke manapun dan berapa lama, penginapan sudah menjadi hal pokok. Kalau pengin tinggal dalam waktu yang lebih lama, tentu saja pemilihan penginapannya harus lebih berhati-hati mengingat budget yang dikeluarkan akan lebih besar. Belum lagi kalau tempatnya eksis banget, seperti Ubud. Hotel dan homestay tentu saja mudah ditemukan di Ubud. Tapi sayangnya kalau digunakan untuk menginap dalam waktu yang lama, hotel dan homestay harganya bisa bikin dompet nangis. Nah, untuk menyiasati penginapan yang mahal, saya memilih kost-kostan. Walaupun Ubud sudah menjadi salah satu pusat wisata di Bali, masih ada, loh, kost-kostan yang harganya ratusan ribu perbulan. Tapi jangan bayangkan lokasinya hanya selemparan kolor dari pusat Ubud, ya.

Nah, untuk tempat ngekost saya sarankan yang berada di sekitar Sayan dan Tanggayuda. Selain masih banyak turis, dua daerah ini nggak terlalu jauh dari pusat Ubud, dan dekat dengan toko 24 jam dan warung. Untuk harganya ada yang mulai dari 500 ribu-an sampai 1,5 juta-an per bulan, tergantung lokasi dan besar kecilnya kamar. Sedangkan kostan saya saat itu harganya 1 juta perbulan.

Makan

Makan selama traveling menjadi persoalan tersendiri. Kalau menginap di hotel, sih, saya biasanya memakai prinsip 1 kali makan di hotel, 2 kali makan di luar, demi menghemat pengeluaran. Berbeda ketika saya ngekost. Karena harus tetap berhemat saya memilih untuk masak sendiri. Untungnya kostan saya waktu itu tidak jauh dari supermarket dan warung yang berjualan sayuran.

Namanya juga liburan, gimana kalau lagi malas masak, dan lagi pengin bersenang-senang? Nah, kalau lagi pengin bersenang, yang artinya makan-makan lucu di restaurant atau cafe, saya membiasakan untuk makan murah, tapi kenyang di warung Jawa atau nasi campur di Pasar Ubud dahulu. Sisanya, di malam hari saya bisa makan gaya fancy di restauran atau cafe.

Untuk biayanya saya anggarkan 1,5 juta Rupiah untuk satu bulan. Jadi, per harinya saya harus makan dengan budget 50 ribu Rupiah. Makan di warung Jawa cukup 10 sampai 30 ribu rupiah, jadi 50 ribu cukup untuk dua kali makan.

Hore-horean

IMG_0634

Ingat kita sedang liburan! Hal-hal menyenangkan tetap harus ada dong! Hal-hal menyenangkan ini termasuk: ngopi di kafe, pijat, spa, dan tiket ke tempat wisata. Harga rata-rata untuk sekali mimi-mimi lucu di Ubud itu 30 sampai 50 ribu Rupiah. Sementara kalau pijat harganya 60 sampai 100 ribu Rupiah, tergantung durasi dan femesnya tempat itu. Dalam sebulan saya anggarkan 500 ribu rupiah untuk hore-horean. Toh, nggak setiap hari saya ngopi di kafe atau pijat. Kalau mau murah lagi, datanglah ke satu kafe sesering mungkin. Kalau pemilik kafenya baik, pasti kita diberi compliment menu. Kalau saya, sih, suka datang ke kafe atau coffee shop kecil, soalnya kafe-kafe itu pasti punya pengunjung tetapnya sendiri. Beda dengan kafe atau coffee shop besar yang pengunjunganya random. Kalau sudah sering datang, berkenalan lah dengan pengunjung tetap di kafe itu, siapa tahu bisa dapat traktiran, kan? 😀

Ngomong-ngomong soal coffee shop kecil, saya bahkan mendapat teman baru dari negara yang berbeda-beda dari sebuah coffee shop di Ubud. Hampir setiap sore kita nongkrong bareng sambil ngomentarin pengunjung lain di kafe ini. Kita anaknya emang gosip banget! 😛 Karena saya penggemar coffee shop, saya rekomendasikan Seniman Coffee Shop, Tutmak, Freak Coffee, dan The Elephant. Datang ya sekali-kali! 😀

Kelas Yoga 

Saya sengaja nggak memasukan Yoga ke hore-horean, karena saya yakin nggak semua orang datang ke Ubud untuk berlatih Yoga. Awalnya, sih, saya juga nggak berminat untuk mencoba Yoga, tapi karena diajak seorang teman, dan Ubud ternyata menjadi salah satu pusat wellness di dunia setelah India dan Nepal, nggak ada salahnya kan nyobain jadi hippies? Karena Ubud terkenal sebagai pusat Yoga dan meditasi, banyak wellness center yang menawarkan paket kursus Yoga dan meditasi. Harganya bermacam-macam dari yang harian sampai yang bulanan. Saya pernah ikut kursus Yoga yang bayarnya harian di The Yoga Barn, tapi karena mahal, saya memutuskan untuk ikut kelas Yoga setiap pagi di dekat kost. Gratis! 😀

Transportasi

Karena traveling dalam waktu yang lama dan transportasi di Ubud belum begitu banyak, pilihan satu-satunya adalah menyewa motor. Apalagi kalau tempat tinggal kita jauh dari pusat kota. Motor akan menjadi barang yang berharga. Untuk menyewa motor metik cukup 500 ribu perbulan. Jangan sewa per hari karena harganya akan lebih mahal! Lalu gimana kalau nggak bisa naik motor sendiri? Tenang, di Ubud ada banyak ojek yang bisa dijadikan langganan. Untuk harganya, sih, tergantung sistem kekerabatan kita dengan si abang ojeknya. 😀

Kalau dihitung-hitung, biaya saya sebulan tinggal di Ubud hanya 3,5 sampai 4 juta rupiah. Itu pun saya sudah termasuk beberapa kali keliling Pulau Bali. Jangan bayangkan biaya hidup saya di Ubud sama dengan semua orang, ya! Harga ini bisa lebih mahal atau lebih murah, selera dan ukuran irit setiap orang berbeda-beda, kan? Selamat mencoba! 🙂

P.S harga di atas adalah harga tahun 2014, kalau sekarang lebih mahal, salahkan dollar!  

Advertisements

18 thoughts on “Sebulan di Ubud: Ini yang Saya Bayar!

  1. kos yg mas tempati apakah bersih? kamar mandi di dalam? brp luas kamar? makasih sebelumnya. saya juga berniat mau self healing di ubud sekitar beberapa bulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s