Tenun Sehat Dari Tenganan


IMG_37

Kalau yang warna merah dibuat dari darah manusia.”

“HA?!” Saya terperanjat kaget.

Hi hi hi hanya bercanda. Itu cara nenek moyang kami menjaga tenun Gringsing agar tidak ditiru.”   

Begitulah kata Ni Komang Sukmawati, wanita asal Desa Tenganan yang sekaligus pengerajin tenun Gringsing. Memang konon kabarnya, tenun Gringsing tidak boleh dijual di luar desa Tenganan, karena takut ditiru. Sehingga para tetua Tenganan menyebarkan berita tentang warna merah yang terbuat dari darah manusia tersebut. Akibatnya, tenun Gringsing tidak seterkenal tenun-tenun lainnya di Indonesia. Hingga baru-baru ini tenun Gringsing diperkenalkan oleh pemerintah daerah dan Menteri Pariwisata sebagai salah satu tenun asal Bali.

Jam di tangan saya menunjukkan pukul 12.30 ketika saya dan seorang teman tiba di desa wisata Tenganan Pegrisingan. Dengan mengendarai sepeda motor metik sewaan, tibalah kami di Desa Tenganan. Kami membutuhkan waktu hampir tiga jam perjalanan dari hotel kami di Kuta ke Desa Tenganan yang berada di Kabupaten Karangasem, Bali. Ketika kami tiba, Desa Tenganan nampak sepi. Pintu-pintu rumah penduduk sengaja dibuka agar para pengunjung dapat melihat souvenir dan kain tenun yang mereka pamerkan.

Desa Tenganan yang selalu damai dan tenang.

Desa Tenganan yang selalu damai dan tenang.

Di sini hanya tinggal beberapa (yang menenun), yang lain tinggal menjual saja. Tiyang (saya) termasuk yang masih ngayah (kerja).” Ni Komang memang salah satu penenun yang masih aktif menenun. Sementara penduduk lain hanya sebagai penjual tenun saja, malah beberapa sudah beralih ke kerajinan lain. Ni Komang sudah mulai menenun ketika beliau masih berusia sembilan tahun. Galeri yang dimilikinya sekarang adalah warisan dari nenek moyang yang diteruskan oleh orang tua Ni Komang. Sebelum akhirnya diteruskan lagi oleh Beliau.

Malu kalau anak gadis Tenganan ndak bisa ngayah di adat, apalagi nenun”

Menurut cerita Ni Komang, beliau pernah mengenyam pendidikan tinggi di Universitas. “Tiyang pernah kuliah Bahasa Inggris sampai semester enam di Denpasar, tapi tiyang memilih menikah dan menenun saja. Enak begini.” Lanjut Ni Komang sambil terkekeh. Mungkin Ni Komang adalah satu-satunya orang di Tenganan yang sedikit fasih berbahasa Inggris. Mungkin juga Beliau adalah satu-satunya orang yang pernah mengenyam pendidikan di universitas, karena warga Tenganan tidak diperbolehkan meninggalkan desa. Jika pergi meninggalkan desa, ia tidak diperbolehkan lagi kembali ke Tenganan. Akibatnya, pernikahan pun hanya terjadi antar penduduk Tenganan.

Di rumah Ni Komang ada beberapa wanita yang usianya dari belasan sampai puluhan tahun mengerjakan tenun. Tugas mereka berbeda-beda mengingat tahapan membuat tenun Gringsing begitu banyak dan rumit. Helai demi helai benang yang belum diberi warna disiapkan Ni Komang demi menunjukan tahapannya kepada kami dan beberapa turis asing asal Belanda.

Rumah-rumah penduduk yang selalu terbuka untuk turis.

Rumah-rumah penduduk yang selalu terbuka untuk turis.

Berbeda dari tenun lainnya, tenun Gringsing adalah tenun yang menggunakan teknik ikat ganda. Menurut Ni Komang, teknik ikat ganda hanya diterapkan ke pembuatan tenun Gringsing dan Kimono di Jepang. Pada teknik ikat ganda, motif tenun sudah direncanakan ketika proses pemberian warna ke benang. Pada mulanya, semua benang direndam di minyak kemiri selama satu bulan lamanya agar berwarna kuning. Benang-benang berwarna kuning ini kemudian dijemur di sebilah bambu sambil dipilah benang mana saja yang akan diberi warna biru, merah, dan hitam. Semua warna-warna ini diperoleh dari tumbuhan yang tumbuh di sekitar Desa Tenganan.

Sebenarnya banyak warna buatan pabrik yang lebih mudah, tapi mereka cepat pudar. Kalau dari warna alami, semakin tua kainnya semakin bagus.” Kata Ni Komang sambil menunjukan tenun Gringsing yang usianya jauh lebih tua darinya.

Setelah diwarnai berdasarkan warnanya, benang-benang tadi kemudian diikatkan satu persatu ke papan yang terbuat dari bambu. Dari sini motif yang diinginkan mulai dibuat. Untuk benang yang berwarna biru, setelah direndam dengan daun taun dan daun indigo, harus dibawa ke daerah berpantai selama satu minggu. Ini dikarenakan sifat cairan dari daun taun dan indigo harus terkena sinar matahari langsung agar dapat kering dengan sempurna. Belum lagi benang yang berwarna merah, yang diperoleh dari mengkudu, harus dikeringkan selama 2 tahun. Bahkan konon, pengeringan benang warna merah ini membutuhan waktu hingga 10 tahun lamanya!

Setelah selesai semua proses pewarnaan, benang-benang tadi direndam kedalam air beras selama semalaman agar memperoleh warna yang lebih tegas. Kemudian benang-benang tadi kembali dikeringkan sebelum masuk ke proses tenun.

Alat tenun sederhana di galeri milik Ni Komang.

Alat tenun sederhana di galeri milik Ni Komang.

Benang perlu dimasukan satu persatu berdasarkan ukurannya ke alat tenun ini. Kalau benangnya horizontal disebut benang pakan, kalau vertikal disebut benang lusi.” Jelas Ni Komang sambil memberi contoh bagaimana menenun. Sejak saat itu saya baru tahu, untuk memasukan benang perlu dilakukan satu persatu dengan sangat hati-hati dan teliti. Duh, belum mencoba saja saya sudah merinding duluan!

Menurut Ni Komang, untuk menenun satu tenun Gringsing membutuhkan waktu satu bulan hingga satu tahun lamanya, tergantung rumitnya motif. Kalau melihat lama dan rumitnya proses pembuatan tenun Gringsing, wajar saja kalau tenun ukuran 60 X 150 cm dihargai mulai dari 200 hingga 600 ribu rupiah. Bahkan beberapa tenun Gringsing dihargai sampai puluhan juta rupiah.

Sejak dikenalkan oleh pemerintah Bali dan Menteri Pariwisata, jumlah turis yang datang ke Desa Tenganan mulai meningkat. Hasilnya, tenun buatan penduduk Tenganan ini mulai diincar oleh turis lokal dan asing. “Bulan Agustus biasanya yang ramai (turis), ada yang lokal ada yang asing.” Jelas Ni Komang ketika saya bertanya tentang jumlah turis yang datang ke Tenganan.  

Tenun Gringsing juga memiliki filosofi yang sangat menarik. Gringsing diambil dari bahasa Bali yang berarti sehat atau tidak sakit. Menurut kepercayaan orang Bali, agar seseorang tidak sakit memerlukan elemen alam yang seimbang yaitu api, angin, dan air. Ketiganya tidak boleh terlalu banyak atau terlalu sedikit, harus pas. Maka dari itu, pewarnaan tenun Gringsing mewakili tiga elemen tadi; merah untuk api, kuning untuk angin, dan hitam atau biru untuk air. Tujuannya agar si pemakai tenun Gringsing kelak tidak mudah sakit. Bahkan sebelum mulai menenun, si penenun wajib bersembayang dan meletakan sesajen di samping alat tenunnya. Ih, keren!

Sebelum dikenalkan ke publik, tenun Gringsing lebih banyak dipakai untuk upacara-upacara adat di Tenganan, seperti potong gigi dan perang Pandan. “Semoga kedepannya tenun ini bisa semakin dikenal masyarakat” Tutup Ni Komang sambil mengantarkan kami berkeliling di galeri miliknya.

Sayang sekali saya tidak membawa cukup uang untuk membeli tenun eksotis tersebut. Tapi saya berjanji kepada Ni Komang untuk menuliskan cerita perjalanan saya, dan tenun Gringsing sebagai Mahakarya Indonesia dari Tenganan yang dijaga dan diwariskan dengan baik.

Postingan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #KaindanPerjalanan yang diselengarakan Wego

DOAKAN YA! 😀

      

Advertisements

8 thoughts on “Tenun Sehat Dari Tenganan

    • Sebenarnya malah warna biru warna dasar penghasil warna hitam, caranya warna biru ditimpa berkali-kali sampai menjadi warna hitam. Dari kesemua warna, warna biru yang pewarnaanya paling susah menurut ku. Ayo dong mbak Mumun balik lagi, Tenganan lebih ‘hip’ sekarang 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s