Turis (Ilegal) di Borobudur


IMG_026

*Declaimer: cerita ini hanya bersifat sharing bukan untuk ditiru. 

14 November 2015 – satu minggu sebelum keberangkatan. 

Di suatu siang yang biasa-biasa saja, sebuah pesan singkat masuk ke whatsapp saya. Sebuah pesan dari Thomas, seorang teman asal Belanda yang saya kenal ketika tinggal sebulan di Ubud.

‘Most temple guards who work under UNESCO are not well-paid’ 

‘A late-night guard most likely smokes cigar. A pack of Marlboro will probably do’

‘Don’t forget to flash a hundred thousand Rupiah’  

Tahu kan percakapan ini arahnya ke mana? Kalau masih belum bisa menebak, tunggu dulu. 😀

Minggu 22 November 2015, 02.30 dini hari.

Sebuah taksi sudah menunggu saya di depan hotel di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Saya memang ingin berniat menikmati sunrise di puncak Borobudur. Ngomong-ngomong soal sunrise, ini bukan pertama kali saya ke Borobudur untuk menikmati sunrise. Tahun 2014 lalu saya pernah berkunjung ke Borobudur untuk tujuan yang sama. Seperti layaknya turis-turis lain yang ingin melihat sunrise, pilihan kami satu-satunya adalah melalui Manohara Hotel yang merupakan operator satu-satunya sunrise di Borobudur. Harganya cukup mahal untuk matahari terbit yang munculnya hanya beberapa menit. Belum lagi kondisi cuaca yang ikut menentukan baik buruknya si sunrise. Untuk masuk, setiap pengunjung wajib membayar 270 ribu untuk turis lokal, dan 350 ribu untuk turis asing. Walaupun cukup mahal, fasilitas yang diberikan lumayan lengkap; akses khusus ke puncak Borobudur, welcoming drink and snacks, dan guide yang tugasnya memberi aba-aba ketika mataharinya hampir terbit. Waktu itu Kami sudah bersiap di Manohara Hotel pukul 4 pagi, dan pukul 4.30 kami sudah berada di puncak Borobudur untuk menikmati matahari terbit.

Namun kali ini saya menggunakan cara yang sedikit ‘kotor’. Mengikuti keberhasilan Thomas yang berhasil melihat matahari terbit di Borobudur tanpa melalui Manohara, saya pun memberanikan diri, atau lebih tepatnya nekat. Saya sengaja berangkat lebih awal dari Jogja, dengan asumsi saya bisa sampai di puncak Borobudur lebih awal dari rombongan ‘resmi’ dari Manohara. Karena perjalanan dari Jogja ke Magelang cukup sepi, saya tiba di pintu utama Borobodur tepat pukul 3.30. Semua gerbang nampak ditutup, dan tidak ada satupun penjaga yang berada di sekitar gerbang. Duh saya jadi was-was, jangan-jangan memang nggak ada penjaganya, nih, malam ini.

Saya mencoba berjalan ke sebelah kiri pintu utama yang merupakan pintu menuju Manohara Hotel. Di sana pun nggak nampak satu pun penjaga yang sedang berjaga, bahkan pos penjagaan terlihat kosong! Wah jangan-jangan memang mereka sedang nggak berjaga, nih. Karena lelah berjalan ditambah cuaca dingin yang menusuk tulang, saya sudah hampir kembali ke jalan yang benar, yaitu membeli tiket resmi di Manohara Hotel seharga 270 ribu. Rasanya nggak ikhlas betul 😦

Saya memutuskan terus berjalan melewati pintu masuk Manohara Hotel. Tiba-tiba ada suara yang memanggil saya dari balik pagar:

‘dek … dek … mau ke mana? Pintunya bukan situ’

Seorang bapak, yang selanjutnya namanya saya samarkan dengan Bapak X, berjalan menghampiri saya dari balik gerbang.

‘maaf Pak, saya mau masuk ke dalam candi’ Ujar saya dengan suara bernada bingung.

‘wah dek candinya baru buka jam 6’ Memang betul jawab Bapak X ini, saat ini masih pukul 4 pagi.

‘Kalau mau melihat sunrise, pak?’

‘Oh kalau mau melihat sunrise beli tiket dulu di sana’ Kata si Bapak X sambil menunjuk Manohara Hotel.  

‘Harganya berapa ya pak? ‘

‘Hmm sekitar 200 an, cepet sebelum telat’

‘Wah pak saya nggak tahu kalau harganya semahal itu. Saya nggak bawa uang sebanyak itu hehe’ Ujar saya dengan suara memelas bak pemeran Sussy di film Ratapan Anak Tiri.

Adek sendirian?

Iya pak

Dan obrolan kami berlanjut (lengkapnya rahasia dong, ya :D). Sampai akhirnya satu lembar uang seratus ribuan dan satu pack rokok Marlboro merah yang sudah saya siapkan mulai berpindah ke kantong si Bapak X. Mendadak saya ingin meloncat bahagia! Rasanya seperti diterima oleh gebetan yang sudah lama diincar. Woh senang! 😀  

‘Tuh, jalan ke pintu itu. Nanti saya tunggu di situ’ Kata si Bapak X. Saya disuruh berjalan ke sebuah pintu kecil yang masih digembok. Tidak lama, ‘ceklek’, suara pintu dibuka. Saya berhasil masuk ke Candi Borobudur untuk menikmati matahari terbit dengan harga 118 ribu saja! Jauh dibawah harga resmi. Hehehe.

keluar sebelum jam 6 ya, kalau mau masuk lagi beli tiket di loket’ Begitu pesan terakhir Pak X sebelum kami berpisah.

IMG_027

Tepat pukul 4.20 saya sudah berada di puncak Candi Borobudur, lebih capet lima menit daripada rombongan ‘resmi’. Terlepas dari semua itu, pagi itu puncak Borobudur cukup ramai karena sedang ada event para blogger se Asia. Ditambah lagi ada Nadia Hutagalung yang sedang shooting sesuatu. Ternyata Nadia Hutagalung  lebih cantik aslinya daripada di tv, loh! Hehehe. Skip! Ketika langit mulai menunjukan guratan kuning keemasan, semua mulai bersiap-siap dengan kameranya masing-masing. Suasanya yang tadinya riuh mendadak menjadi hening. Cekrek … cekrek … cekrek. Semua mulai menekan shutter kamera masing-masing ketika sang Surya mulai meninggi dari balik stupa. Inilah waktu-waktu ‘mistis’ di Borobodur yang paling dinanti. Apalagi ditambah dengan kabut yang menyelimuti hutan dan kampung-kampung di bawah kami. Woh! Kami berasa seperti berdiri di atas awan.

IMG_025

Sayangnya, sunrise pagi itu kurang bagus karena kabut yang lumayan tebal. Tapi saya rasanya puas setelah menemukan ‘jalan’ lain ke Borobudur. Gimana mau melihat sunrise di Borobudur? Gunakan jalan yang benar, ya! 🙂     

             

 

Advertisements

4 thoughts on “Turis (Ilegal) di Borobudur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s