Soal Traveling dan Seafood


IMG_365

‘Gue ga tahu rasanya jadi orang Indonesia yang ga bisa berenang dan makan seafood’ Begitulah ucap seorang teman yang sibuk melahap seekor lobster sebesar separuh lengan orang dewasa di sebuah warung makan di Pelabuhan Ratu.

Sebagai orang yang memilih berada di pantai daripada di gunung, saya cukup sepakat dengan ucapan teman saya itu. Kenapa begitu? Sebagai negara yang memiliki luas pantai sepanjang 5,8 juta KM persegi atau hampir 70% dari luas daratan dengan 25 ribu jenis ikan, rasanya sedih betul kalau tidak bisa menikmati kekayaan bawah laut negara sendiri itu. Untuk menikmati kekayaan bawah laut Indonesia, paling tidak harus bisa berenang atau makan hasil lautnya, kan? 😀

Ngomong-ngomong soal makan seafood, setiap kali sedang jalan-jalan ke daerah berpantai, saya selalu sempatkan untuk mencoba hasil lautnya. Makan-makanan laut yang saya maksud di sini bukan seperti yang ada di mal-mal atau di restoran yang cara makannya ditumplekin di meja seperti yang lagi hitz belakangan ini. Tapi, makan-makanan laut yang berasal dari nelayan atau pengepul ikan.

Tidak semua daerah penghasil makanan laut sudah saya coba, sih, namun dari beberapa tempat yang pernah saya kunjungi, tempat-tempat ini yang menurut saya paling berkesan, enak, dan yang paling penting…. murah! Tempat-tempat itu diantaranya:

Flores

Setiap kali mendengar Flores yang selalu muncul adalah Pulau Komodo, Labuan Bajo, dan kopinya. Tapi taukah kalau Flores juga penghasil makanan laut di daerah timur Indonesia? Memang secara jumlah tidak bisa dibandingkan seperti Sulawesi atau Pulau Jawa. Tetapi dengan kekayaan alam bawah laut Flores yang memiliki variasi ikan yang bermacam-macam cukuplah untuk dimasukan ke daftar penghasil seafood.

Hal ini saya buktikan ketika saya diajak LOB selama 4 hari 3 malam di Labuan Bajo. Setiap hari menu kami bermacam-macam jenis ikan laut, dari sotong sampai ikan berbagai jenis. Kalau yang belum tahu sotong, sotong adalah sejenis cumi dengan ukuran yang lebih besar. Sementara ikannya bermacam-macam dari tuna sirip kuning sampai ikan cakalang. Menurut awak kapal kami, letak NTT yang berada di garis peralihan antara garis Wallace and Waber mengakibatkan jenis ikan yang dapat dikonsumsi lebih sedikit jumlahnya dibanding ikan yang non-konsumsi. Pantas saja mau cari ikan yang warna-warni sampai paus pilot juga ada di sini. Tapi sayang kebanyakan ikan itu hanya bisa dinikmati saja, bukan untuk dikonsumsi.

Setibanya saya di Labuan Bajo, saya sempatkan mampir di sebuah restauran bernama Warung Mama. Warung milik warga lokal ini letaknya berada di atas bukit, sehingga pengunjung bisa makan sambil menikmati pemandangan Labuan Bajo lengkap dengan kapal-kapalnya yang sedang bersandar. Menu seafood yang direkomendasikan di warung ini adalah ikan kukus yang ditambah dengan sayuran dan cabai. Ada juga ikan hotplate yang dimasak ala barbeque. Harga ikan dengan nasi di sini 20 sampai 50 ribu rupiah. Nah, kalau mau makan seafood dengan harga yang lebih miring bisa dibeli di pedagang kaki lima. Dari hasil perbincangan dengan warga lokal, harga rata-rata ikan laut di pedagang kaki lima adalah 10 sampai 15 ribu rupiah tergantung ukuran dan jenis ikan. Tempat yang direkomendasikan oleh mereka adalah di sekitaran Paradise Bar. Kalau dari pusat kota Labuan Bajo tinggal cari aja tuh Paradise Barnya.

Pelabuhan Ratu

Pict via: tripadvisor.com

Pict via: tripadvisor.com

Sudah tidak ada yang menyangkal kalau Pelabuhan Ratu terkenal sebagai penghasil ikan terbesar di barat pulau Jawa. Setelah menemani seorang teman yang ingin berselancar di Pantai Cimaja, kami memutuskan untuk ke pusat pelelangan ikan yang lokasinya masih sejajar dengan pantai-pantai di Pelabuhan Ratu. ‘Kalau mau matangnya langsung ke PIBR aja mas.’ Kata seorang pengepul ikan setelah kami bertanya apakah ikan yang dijual bisa langsung dibakar atau tidak. Ha PIBR? Apa itu PIBR? PIBR ternyata Pusat Ikan Bakar dan Resto di Pelabuhan Ratu yang lokasinya tepat bersebelahan dengan tempat pengalengan ikan.

Memasuki PIBR kami disambut dengan bau ikan bakar yang langsung membuat kami lapar. PIBR ini dibagi menjadi dua lantai. Lantai 1 digunakan untuk menjual berbagai jenis ikan, seperti lobster, sotong, kerang, kerapu, kakap, tongkol, udang, kepiting, dan ikan laut lainya. Di lantai ini pengunjung bebas memilih jenis ikan apa yang akan dipesan, dan ingin dimasak seperti apa. Pilihannya bisa dibakar, digoreng, atau dimasak dengan saus. Sayangnya di PIBR ini harga ikannya sudah nett alias tidak bisa ditawar lagi. Berbeda dengan membeli di tempat pengalengan ikan.

‘Gue mau lobster dong! Eh kerapu ena’ nih, udang dimasak saus padang ya!’ Setelah menyelesaikan pesanan kami lanjut ke lantai dua. Di lantai ini meja-meja sudah ditata untuk pengunjung yang sudah memesan. Selang beberapa menit 3 bakul nasi putih, lobster asam manis, udang saus padang, kerapu bakar, ca kangkung, dan lalapannya sudah tersedia di meja kami. Benar saja, rasa ikan di sini masih terasa segar. Bahkan, sausnya pun enak: tidak terlalu cair dan pedas. Dari semua yang kami makan totalnya hanya 250 ribu saja. Siapa yang nggak senang coba! 😀

Karimun Jawa

IMG_4189

‘Nanti sampai di pulau kita ber be kiu ikan ya!’ Begitulah kata tour operator yang membawa kami berkeliling di Karimun Jawa. Setelah kami lelah bersenorkling, tentu saja ajakan ber be kiu tadi kami sambut dengan gembira. Sesampainya di pulau, para TO langsung sibuk menyiapkan bakaran beserta ikan yang masing-masing ukurannya sebesar telapak tangan orang dewasa. ‘Ini kerapu, ini tongkol, ini serani, ini kakap sirip kuning’ Jelas TO kami yang langsung kami iyain. Toh, jika kami diminta untuk mengulang nama ikan-ikan itu kami juga tidak akan ingat!

Karena kami berada di pulau, cara memasak ikannya pun juga ala kadarnya. Setelah dibakar, ikan dioles dengan kecap manis. Dibolak-balik sebentar, dan voila! ikan pun siap untuk dimakan. Jangan harap ada koki yang menjamin kebersihan ikan, bahkan ikan pun dihidangkan di selembar daun jati. Awalnya saya ragu soal rasanya. Saya coba satu suap. Dua suap. Tiga suap. Dan… Woah! Ternyata enak! Rasa asin ikan masih terasa alami dari air laut. Daging ikan pun masih terasa kenyal, menandakan kalau ikan itu belum lama mati atau masih segar.

‘Kasihan orang kota, mau makan ikan aja ikannya harus mati tiga kali’ begitulah kata TO kami. Ah betul juga ya. Ikan yang biasa kita makan di restauran harus melalui perjalanan yang panjang mulai dari nelayan, pengepul, pasar, restauran, hingga akhirnya sampai ke konsumen. Ikannya sudah mati berapa kali tuh? Hehehe. Sementara di Karimun Jawa, ikan dengan mudah diperoleh langsung dari nelayan. Harganya pun cukup murah. Untuk 1 kilo kakap dihargai cuma 20 ribu, sementara cumi-cumi hanya 15 ribu per kilo, dan lobster hanya 50 ribu per kilo. Duh, pengin borong nggak sih? 😀

Gara-gara menulis tentang seafood, saya jadi kepikiran untuk jalan-jalan ke daerah penghasil makanan laut lebih banyak lagi. Ada rekomendasi? 😀                                 

Advertisements

3 thoughts on “Soal Traveling dan Seafood

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s