Mahalnya Kamboja


IMG_365

Taksi mengantarkan kami ke sebuah guest house berlantai dua bergaya Amerika Latin. Dari luar, guest house nampak teduh dengan tamannya yang luas. Sementara dari samping terlihat Sungai Kampot yang membentang memisahkan sisi selatan Kamboja dengan Pusat Kota Kampot. Saya dan teman saya diturunkan persis di depan pintu masuk guest house. Halo, welcome to Mea Culpa‘ seorang staff guest house menyambut kedatangan kami dari meja resepsionis. Setelah sedikit bercakap-cakap tentang tujuan kami di Kampot, staff resepsionis langsung meminta kami untuk membayar tarif untuk dua malam.

Two nights, double room, 65 Dollar’ Waks! Kami kaget dengan harga yang harus kami bayar. Karena dari situs pemesanan Agoda, guest house ini hanya 15 Dollar saja permalamnya.

Wait, I checked in Agoda before, it stated $15 a night, kok sekarang jadi mahara?!’ Protes saya.

‘Oh harga itu harga online, kalau on the spot, ya bayarnya segitu’

Lagi-lagi kami tertipu. Di Agoda tidak ada penjelasan bahwa harga memesan melalui online dan datang secara langsung akan berbeda. Tahu gini lebih baik saya memesan jauh-jauh hari. Sial!

Kembali lagi ke persoalan menginap. Rasa kesal pun perlahan sirna setelah melihat fasilitas guest house dengan full AC, air panas, tv, dan balkon yang langsung menghadap ke Sungai Kampot. Tepat di bawah kamar  kami adalah restoran pizza yang setiap malam selalu mengadakan BBQ party di pinggir sungai. Melihat fasilitas yang ditawarkan, perlahan kami mulai merelakan budget yang keluar dari rencana. ‘Nggak papa deh, ac, air panas, pemandangannya superb lagi.’

Malamnya kami turun ke cafe. Cafe yang didesain dengan atap melengkung bertutup jerami dengan bar kayu di tengahnya ini cukup membuat kami bahagia. Karena cafenya bertema Pizzaria bar, otomatis kami memesan Pizza. Seorang pelayan datang membawakan buku menu. Sembari melihat-lihat pilihan pizzanya, lagi-lagi kami tercengang dengan harganya. Pizza termurah seharga 8 Dollar yang berisi sayuran saja. Duh!

Awalanya kami pikir kami salah memilih guest house karena harganya yang selangit. Setelah beberapa hari di Siem Reap, Phnom Penh dan Kampot, saya baru sadar Kamboja itu mahal gila! Berdasarkan perhitungan saya, dalam sehari saya menghabiskan hampir 300-400 ribu. Per orang.

Lalu, kemana sajakah uang itu?

Akomodasi

IMG_366

Jika dibandingkan dengan negara tetangganya Thailand yang jauh lebih berkembang, penginapan di Kamboja sungguh sangat mahal. Pasalnya, dengan uang $7 di Bangkok sudah bisa mendapatkan homestay sederhana (kipas angin, berair panas, dan tv cembung). Sedangkan di Seam Reap, dengan $15 baru bisa mendapatkan kamar sederhana dengan kipas angin dan tanpa pemanas air. Yang mengherankan lagi, untuk sekelas hotel tak berbintang di Kampot saja sudah mencapai $7 per malam dengan fasilitas kasur non busa dan tanpa air panas. Padahal, Kampot merupakan Kota kecil. Lalu bagaimana dengan harga di resortnya? Bagi yang memiliki uang lebih, siapkan saja $120 hingga $500 untuk dapat menginap di private bungalow.

Nilai tukar uang

IMG_361

Selama saya di Phnom Penh saya memang menukarkan uang Dollar ke Riel di penukaran uang yang ada di pusat perbelajaan. Entah tertipu atau memang mahal, nilai tukar Riel sangat jatuh terhadap Dollar. Inilah kenapa, mungkin, Kamboja memakai dua jenis mata uang, US Dollar dan Riel. US Dollar dipakai untuk transaksi besar, sedangkan Riel dipakai untuk transaksi kecil. Yang lebih membingungkan adalah ketika membeli barang dengan Dollar. Walaupun kita membayar dengan pecahan Dollar, penjual bisa saja memberi kembalian berupa Riel. Entah bagaimana mereka bisa mengonversi dari pecahan Dollar ke Riel secepat itu. Ya, daripada kembalian berupa permen, sih, ya.

FYI, 4000 Riel sama dengan US $1.

Makan dan minum

IMG_371

Karena trip ini bertajuk ((bertajuk)) jalan-jalan sok mewah, tapi pelit, kami dari awal memang bertekad mencari makan di cafe atau restauran yang harganya masih masuk akal. Selama enam hari di tiga kota di Kamboja; Siem Reap, Phnom Penh, dan Kampot, kami sengaja memanjakan diri dengan makanan enak. Sesuai perkiraan kami, rata-rata menu utama ala western  seharga 2 sampai 9 Dollar. 2 Dollar untuk sekedar seporsi kecil salad, dan 5 Dollar untuk makanan berbahan daging tipis (burger dan kawan-kawan). Sementara 8-9 Dollar untuk makanan sejenis steak dan BBQ.

Di Kamboja sendiri, mudah untuk mencari cafe atau restauran bertema Eropa atau Amerika. Faktor banyaknya pekerja NGO di sinilah yang membuat banyak cafe-cafe semacam ini. Menu yang paling banyak dijual di cafe-cafe semacam ini adalah ribs dan steak.

IMG_378

Deretan cafe dan pub di Siem Reap. Coba di-zoom pilihan menu di boardnya! 😀

Yang membuat kami terkejut adalah minumannya. Untuk yang suka beer, harga sebotol beer lokal adalah 1 Dollar. Ya, masih masuk akal menurut saya. Sedangkan yang luar biasa mahal adalah air mineral ukuran sedang seharga 0,5 Dollar. Di Indonesia, dengan uang sejumlah itu sudah bisa mendapat 3-4 botol air mineral ukuran yang sama.

Tips: bawa botol minum sendiri, isi ketika di bandara atau hotel. Cari restauran milik penduduk asli Khamer. Biasanya, satu piring nasi dan lauk tidak lebih dari $2.50. Sedangkan Chinese food di resturan Vietnam juga cukup murah, aneka mie dan pangsit hanya $5.

Kendaraan

IMG_367

Tuk-tuk

Selama di Kamboja, kendaraan yang kami pakai adalah:

  • Taksi (berargo) dari Phnom Penh ke Kampot seharga 48,5 Dollar. Perjalanan selama kurang lebih 3 jam. Cukup mahal memang, karena memang taksi pilihan kami satu-satunya. Ada sih bis, tapi kami sedang malas berurusan dengan scam dan lima jam di jalan.
  • Tuk-Tuk. Kendaraan yang ditarik motor ini kami pilih untuk berkeliling Phnom Penh ($4-5). Opsi ini juga kami pilih untuk berkeliling Siem Reap dan Angkor Wat selama seharian. Harga ini sudah termasuk untuk menikmati matahari tenggelam di Ankor Wat ($25). Kembali ke bandara pun kami juga memilih memakai tuk-tuk seharga $6.

Harga di atas adalah harga setelah proses tawar-menawar yang ala kadarnya. Kalau bukibuk mungkin bisa jauh lebih murah :p

Sewa ini dan itu

IMG_368

Sepeda motor. Awalnya kami ingin menyewa sebuah sepeda motor di Siem Reap untuk berkeliling Angkor Wat. Tapi setelah membaca beberapa review buruk tentang penyewaan motor di Siem Reap (dan beberapa tempat di Kamboja), kami pun mengurungkan niat kami.

Harga yang ditawarkan untuk satu hari adalah $10. Harga ini belum termasuk bensin, sewa helm ($1 per helm), dan uang jaminan. Mereka juga menyewakan kunci ganda motor. Uniknya, menyawa kunci ganda ini sifatnya wajib ($1) dengan dalih keamanan. Menurut saya, kalau tetap ingin menyewa motor, lebih baik ajak orang lokal, guide, atau staff hotel agar tidak tertipu.

Senang-senang

IMG_375

Tur di Sungai Kampot yang melewati Taman Nasional Bokor 

Selain makan, ongkos senang-senang ini yang juga terasa cukup mahal. Contoh saja, cruise selama tiga jam di Sungai Kampot seharga $40 per orang (termasuk makan malam dan beer). Untungnya, kami mendapat operator tur yang hanya $5 saja per orang. Bedanya hanya di jenis kapal yang dipakai dan pelayanannya saja.

Mahal? Kalau dibandingkan dengan pemandangan Sungai Kampot ketika sore lengkap dengan sunset yang terlihat rendah diantara pohon bakau di Taman Nasional Bokor, sih, masih oke oce kok.

Kemudian kami menyewa Paddle Board ($7), semacam papan seluncur, namun harus berdiri sambil membawa dayung yang terbuat dari plastik. Sewa dibatasi selama dua jam. Sayangnya saya menghabiskan satu setengah jamnnya untuk sekedar berlatih berdiri di air. Terpaksa deh harus bayar ekstra lagi. 😦

Di Angkor Wat pun kami harus membeli tiket seharga $40. Tiket ini valid selama tiga hari dalam minggu yang sama. Artinya, dalam sekali masuk pengunjung wajib membayar sekitar 180 ribu Rupiah. Harga ini belum termasuk tip untuk guide selama di Angkor Wat.

Tak lupa kami juga mencoba pijat refleksinya. Kami bandingkan dengan Bali dan selama kami di Bangkok, untuk refleksi selama satu jam di Bali hanya 60 sampai 90 ribu. Sedangkan di Bangkok kami cukup membayar  120 Baht atau sekitar 50 ribu untuk full body massage selama satu jam. Lalu bagaimana di Kamboja? Di Kampot kami mencoba pijat reflksi di sebuah spa center. Untuk pijat refleksi selama 45 menit kami harus membayar $8. Cukup mahal bukan?

Lain-lain

Setibanya kami di Kamboja, kami langsung membeli paket data di bandara. Harganya cukup murah. Untuk 3,5 GB kami cukup membayar $5 yang aktif selama dua bulan.

Jika ditotal, pengeluaran kami hampir $2 sampai $3,5 per hari. Untuk negara yang kurang berkembang dibanding Thailand dan Indonesia, biaya sebesar itu cukup tinggi. Jika ingin menekan biaya, cobalah mengurangi di penginapan dan makan. Karena di kedua pos ini lah yang menurut saya paling mahal di Kamboja. Jadi, kapan ke Kamboja, nih? 😀

   


Advertisements

One thought on “Mahalnya Kamboja

  1. penginapannya mahal juga ya, dan harga pizza nya cukup mengagetkan.. sekilas merasa bersyukur juga tinggal di Indo. tapi gak tau deh menurut turis thai yang main ke Indo. apakah mahal??

    main juga yaa gan ke blog saya (klik di nickname)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s