Paris for newbies

IMG-20130202-00103Setiap jalan-jalan ke Eropa, berkunjung ke Paris sudah jadi hukum wajib buat para turis dari seluruh dunia. Bahkan, beberapa teman saya sesama bekpeker di Indonesia menyebut Paris sebagai naik hajinya para traveler. Mereka rela-relakan nabung dari tahun-tahun sebelumnya dan menyiapkan itinerary sebaik mungkin selama di Paris nanti. Well, waktu saya mau ke Paris, saya juga melakukan hal yang sama, sih. Secara Paris itu kota yang mahal. Kalau saya nggak mempersiapkan dengan baik bisa-bisa saya overbudget, dan melewatkan tempat-tempat yang menarik. Sebelum berangkat saya sudah mencatat semua tempat-tempat yang mau saya kunjungi, rute tranportasi yang harus saya lewati, dan cari penginapan yang dekat dengan jalur metro. Pokoknya, dalam 5 hari saya harus bisa mengunjungi tempat-tempat yang turis banget di Paris. Kenapa saya pilih tempat-tempat yang turis banget? Karena ini adalah pertama kali saya ke Paris. Masa pertama kali ke Paris nggak ke Eiffel atau Louvre, sih? Nggak bisa norak dong! 🙂

Continue reading

Drama Hostel

Party'ish hostel di Budapest

Party’ish hostel di Budapest

Warning: Di dalam postingan ini terdapat unsur materi dewasa (17+)

Sejauh ini sudah puluhan hostel di beberapa negara yang sudah saya tempati. Dari yang tempatnya berada di dekat pusat kota sampai yang harus naik-turun bukit, bahkan sampai yang sebelahan sama tempat prostitusi! Sebenarnya, tinggal di hostel selama traveling bukan prioritas utama saya, toh kalo ada hotel yang harganya selisih 1 atau 2 dollar, pasti saya memilih hotel demi privasi. Sayangnya, jarang banget ada hotel yang harganya selisih sedikit dengan harga hostel (cuma beda ‘s’ sama ‘t’ tapi harganya bisa beda 10 kali lipat). Apalagi kalo traveling ke negara yang mahal, harga per malam di hostel cuma US$7 Sedangkan di hotel bisa puluhan dollar itu pun kalo traveling ketika low-season. Kalo traveling cuma dalam hitungan hari sih, nggak masalah, lah kalo seperti saya yang traveling dalam hitungan minggu bahkan bulan? Duh, yang ada bisa bangkrut.

Continue reading

Siapa bilang Budapest mahal?

7873188212_870ce1ff9a_b

Parliament Building Budapest

Siapapun yang mendengar jalan-jalan ke Eropa rasanya langsung terbayang satu kata “mahal”. Tapi apa benar Eropa semahal itu? Sebenarnya tidak semua negara di Eropa mahal. Sama halnya dengan Asia, biaya hidup di Vietnam pasti jauh di bawah Thailand atau biaya hidup di Jepang pasti lebih tinggi daripada di Cina daratan. Intinya, negara di Eropa bakal lebih murah asalkan kita pandai memilih kota yang akan di kunjungi. Ketika saya di Eropa beberapa waktu yang lalu, Budapest menjadi salah satu tujuan saya. Selain kotanya yang lebih murah di banding Paris dan Amsterdam, saya bosen ketemu orang Indonesia di Eropa. Hahaha! Ketika saya di Paris, pemilik hostel saya tanya “are you Indonesia? You are here for shopping, right?” Nah loh! Ternyata orang Indonesia sudah terkenal di Paris sebagai turis gila belanja. Eh beneran, ketika saya di Paris, saya ketemu satu rombongan tour yang isinya cici-cici dari surabaya, setiap berhenti di factory outlet semua langsung bubar!

Continue reading

Orang Paris galak-galak?

Pemandangan setiap pagi di Paris: orang-orang jalan dengan banquet (roti panjang) dengan cuek

Sekali lagi, jangan percaya omongan orang sebelum kita coba sendiri! Sebelum saya berangkat ke Eropa, banyak teman saya bilang ‘lo hati-hati ya di Paris, orangnya galak-galak abis!’ Ditambah lagi beberapa ada yang bilang kalo orang Paris itu nggak bisa bahasa Inggris dan mereka sangat tidak menghargai orang yang tidak bisa berbahasa Prancis, duh ribet amat mau ke Paris aja. Karena ketakutan itulah saya benar-benar matengin urusan trip saya kali ini. Mulai dari mempelajari peta kota Paris, cara menggunakan Metro, menghafalkan bahasa Prancis, hingga saya nonton film dokumenter tentang kota Paris. Browsing saya lakukan gila-gilaan demi mencari informasi cara menuju ke titik tertentu, sehingga nantinya saya nggak perlu lagi tanya ke orang yang katanya galak-galak itu. Males aja kan, kita tanya baik-baik malah dijawab nyolot, duh.

Hp saya pun tidak kalah heboh, saya download semua aplikasi travel yang bisa mengingatkan saya cara menuju kesuatu tempat tanpa nyasar. Perlu diketahui, saya ini backpacker yang hobinya nyasar, tapi  biasanya dari situlah saya dapat meteri buat diceritakan, hehehe. Benar, semalaman di kereta menuju Paris dari Amsterdam saya grogi hebat. Jam tidurpun jadi kacau, mata selalu fokus susah buat merem, badan merinding, keringat dingin perlahan mangalir, ditambah lagi AC kereta yang super dingin. Pikiran jadi kemana-mana dan penuh dengan rasa kuatir ‘gimana kalo ntar gue nggak tau jalan kesana’ ‘gimana kalo orangnya nggak bisa bahasa Inggris’ gimana kalo ntar gue nggak bisa makan’ ‘gimana kalo gue ntar kesasar terus ilang terus nggak ada yang nolong’ haaaaaaah! Sebagai seorang solo traveler perasaan kuatir semacam itu wajar aja sebenernya, apalagi kita mengunjungi tempat yang bener-bener baru dan belom pernah kita kunjungi sebelumnya. Sesampainya saya di Gare du Nord yang saya tuju pertama adalah bagian tourist information. Disana ada seorang ibu-ibu berbadan gempal berumur lanjut yang bertugas sebagai penjaga loket di tourist information’s desk. Memang dari cara dia jawab nggak begitu ramah, terkesan cuek, tapi pertanyaan saya dijawab dengan sangat detail. Perlu diketahui aja, stasiun Gare du Nord itu luas banget. Jalur keretanya aja banyak banget ditambah lagi ada jalur buat bis, RER, dan metro. Nah kereta disana masih dibagi lagi dari yang cuma keliling kota Paris dengan yang ke negara-negara lain di Eropa. Dan hebohnya lagi, setiap mereka punya line sendiri-sendiri! puyeng kan?

Gampangnya, Gare itu adalah istilah buat stasiun kereta yang bisa digunakan untuk transit baik kereta lintas negara Eropa maupun metro (kereta bawah tanah). Kalo mau naik perhatiin bener-bener keretanya ngadep mana, artinya lihat tujuan akhir stasiunnya, lalu jika kita perlu ganti kereta lihat interchange pointnya. Pusing? Sama!  Buat masalah beli tiket metronya, lihat aja cara orang lain, ikuti mereka dan perhatikan baik-baik cara mereka beli. Soalnya, mesin metro itu pake bahasa Prancis! Oke kambali lagi soal orang-orangnya. Karena masih kebingungan, saya mencoba tanya dengan seorang cowok bagaimana cara menuju ke hostel saya dengan metro, eh dia jawab pake bahasa Prancis! Kalo sudah begini saya perhatikan baik-baik tanganya dan saya catat berapa kali tangannya belok kanan atau kiri. Nggak cuma disitu, ketika saya beli makan, penjualnya aja cuek abis dan ngomong secukupnya pake bahasa Prancis pula! hahaha. Tapi di hostel saya beda, penjaganya yang seorang bapak dengan bahasa Inggris yang cukup lancar malah sangat ramah. Saya pun iseng tanya tentang mitos orang Paris yang katanya ‘galak’ itu dan dia jawab ‘we’re just not really into others’ business‘. Oalah, mereka itu males jadi kepo ternyata!

Jadi kesimpulan saya, orang Paris itu nggak galak, cuma mereka males aja sok-sokan ramah sama orang yang baru dikenal dan mereka nggak mau ngurusin urusan orang lain. Ya, sekali lagi ini tentang budaya. Mereka masih mau kok jelasin secara detail cara menuju kesuatu titik. Kalo dibandingkan dengan masyarakat kita, maaf, apalagi yang di kota besar malah lebih ‘galak’ tapi selalu pengen tau urusan orang lain, nah loh? Intinya ketika kita ke Paris kita harus usaha dulu seperti browsing atau sekedar membaca tourist information yang sangat-sangat detail dan terpampang jelas di stasiun maupun tempat wisata  nggak cuma modal tanya!  Kota Paris itu udah cantik banget, masak kita masih tega minta double combo? 🙂 

Galau total di Maastricht

Malam di Sungai Maas
*sorry jelek, diambil dari kamera blackberry :)*

Sebelum saya berangkat ke Benua Eropa, banyak teman-teman saya bilang ‘elo rasain deh, romantisnya Eiffel, pokoknya elo bakal galau disana‘. Karena hal itu saya semakin penasaran dengan romatisnya Eiffel yang katanya bikin galau itu. Selama ini saya sudah ke beberapa tempat yang menurut saya sangat romatis. Contoh aja nih, saya pernah galau di Halong Bay Vietnam dan di River Front Kamboja. Gimana nggak galau, sunset di Halong Bay itu bener-bener sempurna. Perpaduan antara warna merah dan kuning ke orange-orangean yang terpantul dari bebatuan membuat suasana jadi melow total. Sedangkan di River Front lebih kacau lagi. River Front sebenernya sungai kecil yang nggak begitu bagus, airnya pun keruh. Tapi, River Front ini terletak di Sisowath Quay yang terkenal hip dengan kafe dan club malamnya. Di sore hari, kita bisa duduk-duduk di bangku yang disediakan di pinggir sungai sambil menikmati sunset. Suasananya hampir sama kayak di Venice yang terkenal dengan kanal-kanalnya kalo malam. Kalo udah gitu, pengen rasanya bawa pasangan kesana sambil bilang ‘will you marry me till the death do us apart’ uwuwuwuwuwu banget lah romatisnya!

Nah, pengalaman yang sama saya dapat ketika saya tiba di Maastricht Belanda. Sebelumnya, saya nggak tau banyak tentang Masstricht kecuali Maastricht University yang sudah terkenal di seantero dunia. Sampai suatu saat, seorang teman yang kebetulan sedang melanjutkan studi S2 nya di Universitas Maastricht menawarkan untuk menginap di apartemennya. Woaaaaah! tanpa panjang lebar saya terima aja tawarannya itung-itung hemat ongkos hostel, hehehe. Setibanya saya di Schipol International Airport, saya dijemput oleh teman saya ini. Dengan menggunakan kereta cepat dari Amsterdam, kita menuju ke apartmennya di Maastricht. Ternyata Maastricht nggak seperti yang saya bayangkan sebelumnya yang merupakan kota besar. Maastricht cuma kota seuprit, malah temen saya menyebutnya desa. Uniknya, Universitas Maastricht bisa gede banget namanya dan terkenal dimana-mana. Memang Maastricht itu cantik bangeeeeeeet! Kotanya tenang, hijau, dan rapi. Bahkan kendaraan jarang banget. Yang saya sering lihat adalah orang-orang bersepeda dan berjalan kaki. Pokoknya asik banget!

Gedung-gedung di Maastricht rata-rata bergaya Prancis dan Belgia. Orang-orangnya pun juga datang dari beragam negara dan komunitas Indonesia cukup besar di sana, loh. Kata temen saya, Maastricht selain terkenal sebagi world class dinning nya, Maastricht juga terkenal sebagai kota pensiun dan kota pelajar. Pantes aja kebanyakan disana yang saya temui aki-aki. Tapi dari situlah Maastricht menjadi kota yang ‘malas’ tapi nyaman. Maastricht dibelah oleh sungai Meuse atau dalam bahasa Belanda disebut Maas. Pemandangannya kalo malem bener-bener romantis banget! Apalagi kalo kita berdiri di jembatannya sambil lihat yacht yang didalamnya ada iringan lagu seriosa, duh melow abis! Romantisnya kota ini nggak cuma disitu, saya sesekali menghabiskan waktu siang di sebuah kafe. Lagi duduk-duduk, eh ada dua orang kakek dan nenek berjalan pelan sambil bergandengan tangan. Duh, detik itu juga dada rasanya sesak dan sekali lagi saya meneteskan air mata sambil bilang ‘this place is too romantic for a solo traveler like me’ :’)

*Fyi, Eiffel malah nggak ada apa-apanya, buat saya romantisnya Eiffel sudah terlalu mainstream karena terlalu ramai tourist.

Dugem sambil traveling

Disetiap tempat yang saya kunjungi, saya berusaha mengunjungi night club nya walaupun nggak semua tempat ada. Selain saya pecinta dunia malam, asik rasanya bisa bandingin minuman di setiap tempat dan bisa nyombong kalo dapet beer murah. Mana ada liquor seharga cuma US$5 selain di Phuket, Thailand, mana ada segelas draft beer seharga cuma US$2 selain di Filipina. Bahkan saya pernah traktir teman-teman satu kamar di hostel saya di Thailand dan cuma habis 100rb rupiah! Mau teler-teler deh!

Kalo saya pas di Jakarta saya malah jarang banget meluncur ke tempat-tempat dugem kalo nggak ada yang ngajakin. Begitu pula kalo saya traveling di tempat-tempat yang terkenal hip dengan party goersinya kayak di Bali. Kenapa? Pertama karena beernya yang rata-rata mahal. Bayangkan aja untuk satu gelas draft beer di Bali bisa mencapai 40rb dan satu gelas liquor bisa mencapai 70rb. Tapi kalo emang lagi kepengen banget buat mabok, ya boleh lah sesekali dicoba. Dugem yang sukses bikin saya mimisan adalah di Phuket, Thailand. Bayangkan aja tequila bisa buat kobokan bahkan buat cuci muka saking murah dan banyak!

Pengalaman mabok paling gengges itu ketika saya di Singapore. Tempat dugemnya nggak jauh-jauh amat dari hostel kita di Ann Siang Road. Karena malam terakhir saya di Singapore dan besok paginya harus pulang, saya dan teman saya memutuskan buat melakukan ‘kewajiban’ kami yaitu mabok berjamaah. Dari awal kita janji buat minum satu shot saja biar nggak terlalu hangover karena besoknya kita masih akan traveling ke Sentosa Island. Tempat dugemnya sih nggak begitu hip banget cuma satu petak ruko kecil yang terdiri dari dua lantai. Lantai pertama digunakan buat bar dan lantai duanya digunakan buat dance floor. Beernya nggak begitu mahal-mahal amat dibanding club lain di sana. Saking murahnya, kita berdua sampe kebablasan. Yang tadinya cuma mau minum satu gelas, jatohnya malah bergelas-gelas…glek! Keluar dari bar kita berdua udah hangover parah dan bahkan teman saya sampe jackpot! Apakah cuma sampe disitu? Oh jangan sedih! Kita lupa aja dong jalan pulang ke hostel dan nama hostel yang udah kita tinggali selama tiga hari.

Dugem yang paling lucu itu pas saya backpacking ke Siem Riep, Kamboja tahun lalu. Karena kenal dengan seorang tukang ojek, dia mengajak saya buat datang ke street club. Bayangan awal saya street clubnya nggak bakal jauh-jauh amat sama street club di Amsterdam, bakal banyak bule shuffling. Gilanya lagi, dia bilang satu gelas beer cuma 5 ribu perak…hah?! Siapa coba yang nggak tergoda? Saking semangatnya saya udah pamer di twitter ‘having another shot tonight at a street club party..woohooooo!’ Nggak taunya, street clubnya diadain di pinggir pasar traditional dan yang datang adalah para aki-aki dan para kuli pasar yang badanya segede gaban..krik! Gampangnya kalo di Indonesia itu seperti pertunjukan organ tunggal kalo ada orang mau sunatan. Uniknya lagi, ada juga beberapa ibu-ibu yang datang dan mabok! Saya pikir sih awalnya, clubbing nya bakal sampe pagi, ternyata jam 12 malem udah pada bubar….hahaha!

Sabagai turis kere yang hobi dugem seperti saya, ada beberapa tips buat clubbing tapi tetep, wajib berani malu! Kalo mau berkunjung ke pub, lounge, bar, discotheque, club, cafe atau sampe yang dipinggir jalan dengan apapun namanya itu, ada beberapa triknya. Pertama, carilah club yang bebas entrance fee. Karena, satu kali tiket masuk buat seorang backpacker kere itu bisa buat makan dua kali atau buat beli tiket kereta. Kedua, kalo traveling sendirian, tinggalah di hostel bersama para turis ABG yang kelewat sehat dan dari negara yang doyan mabok. Negara-negara ini seperti Kanada, Australia, Jepang, Amerika, dan Italia. Lumayan mereka bisa diajak buat patungan beli sebotol liquor. Tapi nggak enaknya, ya mereka kadang kelewat sehat, badan kita udah remuk, mereka masih asik joget. Ketiga, carilah club yang menawarkan free flow buat minuman mereka, lumayankan. Keempat, ini kalo beruntung, beberapa hostel seperti youth hostel  berafiliasi langsung dengan tempat-tempat dugem dan hebatnya lagi mereka menawarkan free beer yang bisa tambah sampe kita mimisan!

Kelima, nah ini gimana pandai-pandainya kita merayu. Merayu disini bukan berarti kita menjadi ‘cheap seat‘ tapi merayu yang saling menguntungkan. Kalo memang kita nggak punya temen buat clubbing, datang aja ke club dan cari orang yang sedang duduk sendirian. Mulailah berbasa-basi seperti pinjem korek (walaupun anda bukan perokok) atau tanya minuman yang dia minum. Nah setelah dia asik buat diajak ngobrol, mulai tanya apakah dia mau sharing cost buat sebotol beer atau malah…minta bayarin!

Tambahan informasi, orang Indonesia itu terkanal paling jago joget! Jadi jangan malu kalo suruh koprol di dance floor 😀

Susah ya ternyata

Baru pertama ini saya jadi kordinator untuk sebuah tim backpacker yang akan pergi ke Karimun Jawa dan ternyata itu pekerjaan super ribet..bet..bet..bet! ditambah lagi anggota saya berjumlah 9 orang termasuk saya. walaupun itu temen sekampus semua yang udah saya kenal baik, tapi tetep aja ribetnya nggak ketulungan. Ini pertama kalinya saya membawa temen jalan sebanyak ini (udah bukan temen jalan ini mah, rombongan haji), sebelumnya sih kalo saya jalan dengan teman paling banyak empat orang. Itupun yang kordinir selalu teman saya yang entah saya kenal dari milis atau temen-temen deket saya. Nah saya? cuma jadi peserta yang kerjanya cuma ongkang-ongkang kaki, transfer duit, leyeh-leyeh kalo udah sampe di tempat tujuan, enak! Masalah penginapan dan makan, udah temen yang ngatur. Masalah mau kemana, itinerary juga udah ada yang ngatur saya tinggal menerima hard copy dan menjalankannya. Pokoknya saya tau beres aja, Indonesia banget nggak sih?

Kalo saya lagi mau jalan sendirian, ribetnya malah jadi berasa berkurang banyak. Nggak tau ya, bagi sebagian orang traveling sendirian itu malah jauh lebih susah dan lebih ribet. Kalo menurut saya, jalan sendirian malah lebih enak karena saat itu saya merasakan yang disebut ‘it’s all about me‘. Mulai dari browsing penginapan sendiri yang saya bisa pilih sesuka hati. Kalo lagi duitnya banyak saya tinggal di hotel yang cukup berbintang, kalo dompet lagi sesak napas saya tinggal di hostel yang bisa saya pilih mulai dari sekamar sendiri atau bareng-bareng dengan tamu lain. Soal Makanan saya bisa pilih yang lagi saya pingin coba di tempat itu. Untuk tempat-tempatnya saya juga bebas memilih, kadang-kadang saya bisa keluar dari itinerary semula. Misalnya, di itinerary saya akan berkunjung ke tempat A tapi karena alasan penuh, males, jauh, dan lain sebagainya saya bisa pindah ke tempat Z yang tidak saya rencanakan untuk dikunjungi sebelumnya tanpa harus kordinasi dengan orang lain dulu. Yang terpenting nih, saya nggak perlu susah-susah mikirin kesukaan masing-masing orang.

Pernah loh kejadian waktu saya ke Lombok beberapa waktu silam dengan 5 orang temen yang saya baru kenal di milis. Awalnya sih kalem-kalem aja, semua setuju dengan itinerary yang telah dibuat. Eh setelah beberapa hari jalan mulai keliatan sifat masing-masing (tuh kan beneran, kalo mau tau sifat orang, ajak dia jalan dengan uang terbatas dan lihat bagaimana dia sebenarnya). Ada satu orang yang kekeuh buat belanja mulu, kalo diajak ke pantai dia ngambek. Yang satunya lagi (termasuk saya sih..hehehe) keras kepala buat ke pantai secara di Lombok gitu loh. Sisanya yang dua cuma bisa tepok jidat ngelihat tingkah kita. Waktu saya ke Halmahera bersama seorang temen tahun lalu malah lebih memalukan. Secara temen saya satu ini (cowok lho) bodinya aja keren dan seorang atlet nasional karate lagi, eh pas diajak jalan gampang kena masuk angin. dikit-dikit dia hoek, dikit-dikit dia hoek setiap habis snorkeling. Setiap makan seafood dia lansung gatel-gatel dan tempat favorite dia buat nongkrong apalagi kalo bukan…puskesmas! Tips buat yang tiba-tiba ditunjuk jadi kordinator sebuah perjalanan, suruh semua peserta untuk mencari sendiri aktivitas apa aja yang bisa dilakukan di tempat yang akan dikunjungi tersebut, lalu suruh mereka memilih yang mereka suka. Jadi kalo ada yang nggak suka sama kegiatan tertentu dia bisa cari kegiatan lainya. Jangan pernah memaksakan itinerary kepada peserta. Pernah saya ikut trip sebuah agen perjalanan ke Kepulauan Seribu dan ada salah satu peserta yang sedang hamil. Eh dia dipaksa aja gitu buat mancing yang sumpah bete abis! Menurut loe keren ibu-ibu hamil dipaksa mancing dan harus teriak ‘E…EEEE…EEE…EEEEAAAAAAAAAAA’? ih males! Satu lagi, sebelum perjalanan tanya kepada setiap peserta apakah ada yang alergi terhadap makanan, vegetarian, phobia, atau punya penyakit tertentu.

Walaupun kadang ribetnya bikin mampus, jalan bareng-bareng dalam tim besar ada untungnya juga. Pertama, kita bisa sharing cost sehingga biaya bisa jadi lebih murah. Kedua, ada temen ngobrol, dan terakhir kalo kita hanya menjadi peserta kita cuma bawa ‘badan’ aja nggak perlu persiapan ini itu. Tapi kalo saya suruh milih jalan ber15 atau sendiri, saya pilih sendiri aja kali ya. Soalnya bisa all in my mood. Tapi dari membawa tim kayak rombongan haji ini saya juga belajar yaitu..SUSAH YA TERNYATA!!!