Cara Cepat Mendapat Promo Tiket Pesawat

Kok bisa dapat (tiket pesawat) segitu, sih??’ Pertanyaan yang selalu saya dengar ketika saya membeli tiket promo pesawat. Sebenarnya saya bukan lagi hard-hunter ketika ada promo dari suatu maskapai. Selain kapok setelah menghanguskan tiket returned Kuala Lumpur – Amsterdam tahun lalu, jadwal libur yang susah ditebak setelah bekerja kantoran menjadi alasan lain. Seperti yang kita tahu, maskapai akan menjual tiket promo dengan jadwal terbang yang cukup lama dari jadwal pembelian. Artinya, bisa saja kita membeli tiket tahun ini, tapi baru bisa terbang tahun depan. Nah, hal ini lah yang membuat kurang cocok untuk para pegawai. Kalau pegawai kantoran, sih, bisa mengajukan cuti jauh-jauh hari (itu pun kalau cutinya di approve, ehe). Kalau yang bekerja di bidang pendidikan seperti saya, jadwal libur pun harus menyesuaikan dengan jadwal libur anak sekolah yang jatuhnya pada bulan Juni. Sialnya bulan Juni adalah peak season untuk maskapai. Alhasil, harga tiketnya pun nggak promo-promo amat. *kray*

Continue reading

Liburan di ‘Rumah’

Buat saya jalan-jalan itu ada dua macam: traveling bikin capek dan traveling malas-malasan. Karena seharian itu saya sudah keliling Yogyakarta, Gunung Kidul, dan Wonosari, di hari berikutnya saya ingin traveling dengan gaya santai. Artinya saya cuma pengin makan, tidur, makan, tidur, dan seterusnya. Kalau mau jalan-jalan pun nggak perlu yang full day traveling. Pokoknya traveling yang nggak bikin capek, lah. Malah saya berencana liburan empat hari saya di Jogja ini, saya khususkan untuk liburan di hotel! Toh, saya belum pernah tuh liburan di hotel sampai berhari-hari.

Continue reading

Sebulan di Ubud: Ini yang Saya Bayar!

IMG_335

Saya sebenarnya sudah jatuh cinta dengan Ubud sejak tiga tahun terakhir. Walapun akhir-akhir ini Ubud jauh lebih ramai dari Ubud yang pernah saya kunjungi tiga tahun lalu, tetap saja Ubud selalu istimewa buat saya. Sejak munculnya film Eat, Pray, Love yang dibintangi oleh Julia Roberts, Ubud memang sedikit ‘lebay’Banyak turis yang akhirnya terobsesi oleh kehidupan Liz Gilbert – tokoh utama di film Eat, Pray, Love – yang dikisahkan sedang patah hati kemudian mencari cinta di Ubud dengan mengunjungi dukun tradisional Bali. Doi diramal akan papasan dengan seorang pria yang menabrak dia ketika naik sepeda keliling sawah di Ubud. Singkat cerita si Liz ini jatuh cinta dengan si cowok yang manabrak dia. *ehe drama banget, ya!* Dampaknya? Semua dukun dan terapis akhirnya menamakan dirinya sebagai healer, bahkan beberapa sudah mendirikan tempat praktek! Harganya jangan ditanya, untuk beberapa menit konsultasi bisa ratusan ribu rupiah. Hotel dan resort berbintang pun berlomba-lomba menyediakan tempat untuk meditasi dan Yoga. Semakin letak hotelnya berdekatan dengan sawah, semakin mahal harganya. Belum lagi kafe-kafe bertema hippies yang semakin norak interiornya semakin ramai, mulai bertebaran di mana-mana.

Continue reading

(Jangan) Traveling Selagi Muda

8b7977136feb915b9fd6063b0b64d130

Baru-baru ini saya membaca sebuah tweet lama dari seorang travel blogger yang bunyinya kurang lebih: Kalau masa muda nggak traveling, apa yg akan kalian ceritakan ke anak-cucu kalian? Yang kemudian di-RT oleh seseorang dengan komentar: Berani ambil cicilan KPR, lah! Sebenarnya, saya kurang paham persamaan antara jalan-jalan dengan mengambil cicilan KPR selagi muda. Pembandingnya saja sudah berbeda jauh! Ketika seseorang lebih memilih menghabiskan masa mudanya dengan mendaki satu gunung ke gunung lainnya, atau pindah dari satu kota ke kota lainnya apakah ada yang salah? Lalu bagaimana dengan yang memilih menanam investasi di pasar modal, menabung demi gadget baru setiap bulan, atau berhasil move-on dari satu wanita ke wanita lainnya bak Don Juan? Nggak ada yang salah, bukan? Memang ketiganya nggak ada yang salah kalau tujuan akhirnya hanya ingin diceritakan ke anak-cucu.

Continue reading

Aman Airbnb-ing

Sejak ramai dibicarakan di twitter, situs pemesanan apartment semacam Airbnb semakin ramai digunakan. Sebenarnya tidak hanya situs Airbnb saja yang menawarkan sewa apartment atau rumah secara online, tapi masih ada beberapa yang cukup terkenal di kalangan pejalan. Diantaranya Roomorama, Homeaway, dan Wimdu. Situs-situs semacam ini memiliki sistem kerja yang sama: kita menyewa sebagian atau seluruh ruangan yang memang sengaja disewakan oleh pemiliknya. Awalnya saya tidak tertarik menyewa kamar atau apartmen di situs semacam Airbnb ini. Alasanya karena harganya yang pasti mahal banget.

Continue reading

Paris for newbies

IMG-20130202-00103Setiap jalan-jalan ke Eropa, berkunjung ke Paris sudah jadi hukum wajib buat para turis dari seluruh dunia. Bahkan, beberapa teman saya sesama bekpeker di Indonesia menyebut Paris sebagai naik hajinya para traveler. Mereka rela-relakan nabung dari tahun-tahun sebelumnya dan menyiapkan itinerary sebaik mungkin selama di Paris nanti. Well, waktu saya mau ke Paris, saya juga melakukan hal yang sama, sih. Secara Paris itu kota yang mahal. Kalau saya nggak mempersiapkan dengan baik bisa-bisa saya overbudget, dan melewatkan tempat-tempat yang menarik. Sebelum berangkat saya sudah mencatat semua tempat-tempat yang mau saya kunjungi, rute tranportasi yang harus saya lewati, dan cari penginapan yang dekat dengan jalur metro. Pokoknya, dalam 5 hari saya harus bisa mengunjungi tempat-tempat yang turis banget di Paris. Kenapa saya pilih tempat-tempat yang turis banget? Karena ini adalah pertama kali saya ke Paris. Masa pertama kali ke Paris nggak ke Eiffel atau Louvre, sih? Nggak bisa norak dong! 🙂

Continue reading

Kecil tapi berguna

36405abb8047057548c9e181e77e2ff4Awalnya, saya nggak pernah terpikirkan untuk membawa barang-barang yang menurut saya kurang penting selama traveling, secara prinsip saya ‘the lighter the merrier‘, atau semakin sedikit barang yang kita bawa, semakin bahagia lah kita di jalan. Tapi semenjak saya baca beberapa travel blog, membawa oleh-oleh untuk orang yang kita temui di jalan ternyata bermanfat juga. Dari sini, saya akhirnya membawa beberapa barang yang khas dari Indonesia. Sesampainya di negara tujuan, barang-barang ini akan saya berikan ke teman-teman sesama pejalan. Memberikan bukan berarti memberi secara cuma-cuma tanpa timbal balik, loh. Harus ada keuntungan yang kita dapat juga. Keuntungan ini bisa bermacam-macam contohnya, mau diajak sharing ongkos selama traveling, minta dibayarin beer, atau malah minta dibayarin makan! Pokoknya jangan mau rugi deh. 🙂 *mental cina*

Continue reading